Angkasa Pura 2

Balkespen Kemhub Libatkan 800 Pilot Kaji Risiko GME

Bandara Kokpit SDMSelasa, 14 November 2017
IMG-20171114-WA0056

TANGERANG (BeritaTrans.com) – Balai Kesehatan Penerbangan (Balkespen) Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan melibatkan 800 pilot sipil Indonesia dalan kajian mengenai  “Jam Terbang Total Dan Faktor Dominan Lainnya Terhadap Risiko Gangguan Mental Emosional Pada Pilot Sipil  Di Indonesia”.

“Tujuan dilakukannya kajian tersebut adalah untuk menganalisis faktor risiko jam terbang total dan faktor dominan lainnya pada pilot sipil terhadap risiko GME. Serta memberikan rekomendasi bagi regulator dan operator tentang pencegahan terhadap timbulnya GME pada pilot sipil di Indonesia,” jelas Kepala Balkespen Capt. Avrianto di Tangerang, Selasa (14/11/2017).

Dari kajian tersebut, diperoleh kesimpulan bahwa Pilot dengan jam terbang total di atas 6.624 jam, lama masa kerja 11-20 tahun, menunjukkan permasalahan dalam keluarga tingkat sedang sampai tinggi dan lingkungan rumah yang kurang nyaman berisiko meningkatkan GME.

Pilot yang sering menggunakan strategi koping Seek God’s Help, bukan merupakan faktor dominan yang dapat membantu menurunkan risiko GME.Namun yang dapat menurunkan risiko GME adalah bercerita dengan orang lain dalam mencari solusi permasalahan.

“Untuk itu, tim pengkaji juga memberikan beberapa rekomendasi,” ungkapnya.

Rekomendasi tersebut diantaranya, perlu aktifitas yang positif dan dapat mencegah GME, perlu terciptanya tempat tinggal yang nyaman, dan perlu terciptanya budaya safety culture.

Kepada maskapai/operator direkomendasikan perlunya kegiatan family gathering, penerapan tegas regulasi PKPS 121 amandement 12 tentang jam terbang. Perlu juga penyuluhan SENSE programme, perlu adanya konseling (dokter/psikolog) setiap maskapai, dan Perlu adanya training Crew Resources Management (CRM) dengan pilot, pramugari, dan ground staff.

“Kepada regulator juga diberikan rekomendasi yakni perlunya pemeriksaan kesehatan mental pilot mulai dari CPL hingga ATPL dan perlunya meneruskan informasi hasil kajian kepada Dirjen Perhubungan Udara.

“Terhadap hasil kajian ini, perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan alat yang bersifat obyektif untuk mengukur stress (Heart Rate Variability),” pungkas Avrianto. (omy)