Angkasa Pura 2

Perlu Pendekatan Khusus Meminimalisir Gangguan Mental Emosional Pilot

Bandara Kokpit SDMSelasa, 14 November 2017
IMG-20171114-WA0057

TANGERANG (BeritaTrans.com) – Pilot sebagaimana manusia pada umumnya juga mempunyai berbagai permasalahan, termasuk diantaranya adalah masalah gangguan  mental emosional (GME).

GME adalah suatu keadaan yang mengindikasikan individu mengalami suatu perubahan mental dan emosional yang dapat berkembang menjadi keadaan patologis jika terus berlanjut dan berpotensi adanya suatu gangguan jiwa apabila diperiksa lebih lanjut oleh psikiater.

Gangguan meningkat seiring dengan semakin tinggi jam terbang total yang dimiliki oleh pilot. Diperlukan pendekatan khusus agar resiko GME pada pilot bisa diminimalisir sehingga tidak mengganggu kinerjanya untuk menjaga keselamatan penerbangan.

Demikian  hasil kajian dari Balai Kesehatan Penerbangan dalam publikasi kajian tentang “Jam Terbang Total Dan Faktor Dominan Lainnya Terhadap Risiko Gangguan Mental Emosional  Pada Pilot Sipil  Di Indonesia” dan sekaligus Sosialisasi Peraturan tentang Medical Examination (Medex) terbaru terkait  pemeriksaan dan pengujian kesehatan personel penerbangan yang telah memenuhi standar ICAO.

Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Muzaffar Ismail membuka Sosialisasi yang dihadiri para stakeholder di bidang penerbangan yakni maskapai penerbangan dan regulator, perwakilan asosiasi  pilot dan para peneliti dari Balai Kesehatan Penerbangan Ditjen Perhubungan Udara, juga dihadiri oleh dokter-dokter di lingkungan Kementerian Perhubungan, Dokter Garuda Sentra Medika dan dokter-dokter Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia prodi Kedokteran Penerbangan.

“Saya ucapkan selamat kepada tim dari Balai Kesehatan Penerbangan (Balkespen) dan narasumber serta semua pihak yang telah mendukung dan terlibat dalam kajian ini, sehingga hasilnya dapat dipublikasikan kepada semua operator/ stakeholder penerbangan,” ujar Muzaffar di Tangerang, Selasa (14/11/2017).

Menurutnya, permasalahan kesehatan mental emosional merupakan salah satu permasalahan yang perlu menjadi perhatian semua pihak.

Khususnya bagi regulator dan para maskapai/operator agar dapat menentukan program untuk mengurangi gangguan kesehatan mental emosional bagi pilot, sehingga dapat bekerja dengan seoptimal mungkin dan memenuhi standar kesehatan fisik dan psikis yang telah ditentukan oleh dokumen ICAO 8984 dan CASR 67 edisi 1.

“Semoga hasil kajian kesehatan mental emosional ini dapat memberikan manfaat untuk kita semua, khususnya bagi personel penerbangan agar dapat terjaga tingkat kesehatan dan performanya sehingga terwujud keselamatan dan keamanan penerbangan,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Balai Kesehatan Penerbangan Capt. Avirianto  menyatakan bahwa gangguan kesehatan mental emosional merupakan salah satu permasalahan yang mungkin saja dialami oleh personel penerbangan, khususnya pilot yang sering terpapar dengan sumber stres yang tinggi.

“Besar harapan kami dengan adanya hasil kajian mengenai kesehatan mental emosional ini dapat membantu para operator penerbangan dalam menentukan program untuk mengurangi gangguan kesehatan mental emosional para  pilotnya  sehingga dapat  bekerja dengan seoptimal mungkin,” ungkap Avirianto. (omy)