Angkasa Pura 2

BPTJ: Integrasi Antarmoda Butuh Fasilitas Permudah Perpindahan Orang

Emplasemen KoridorRabu, 6 Desember 2017
IMG20170918161756

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Integrasi antarmoda membutuhkan fasilitas untuk mempermudah perpindahan penumpang dari satu moda ke moda lainnya.

Fasilitas integrasi transportasi di Jabodetabek menurut Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), saat ini dinilai masih sangat minim. Hal itu tentu menyulitkan dalam pengaturan perpindahan orang.

Direktur Perencanaan dan Pengembangan BPTJ Sigit Irfansyah menjelaskan bahwa saat ini masih diperlukan banyak penambahan fasilitas terkait sistem integrasi untuk memudahkan pergerakan orang .

“Untuk perpindahan antarmoda transportasi saat ini pergerakannya belum diatur dengan baik. Ini dapat menyebabkan terjadinya konflik di jalan raya seperti kemacetan yang sangat serius,” ungkap Sigit di Jakarta, Rabu (6/12/2017).

Jabodetabek merupakan kota aglomerasi yang tidak dapat dipisahkan dengan jumlah penduduk yang sangat padat yakni lebih dari 31 juta jiwa.

Mobilitas penduduk sangat tinggi, sehingga fasilitas integrasi transportasi menjadi sangat penting untuk segera direalisasikan.

“Setidaknya ada 17 titik kemacetan di area sekitar stasiun di Jabodetabek karena perpindahan antarmoda belum ada pengaturan” ujar Sigit memberi contoh.

Untuk itu, dalam rapat yang membahas fasilitas integrasi tersebut dinyatakan perlu tersedianya integrasi yang kuat, baik dalam tahap perencanaan, investasi, manajemen operasinya, baik antardaerah maupun antarlembaga.

“Kami menilai pemetaaan simpul-simpul transportasi adalah prioritas dalam pengembangan fasilitas integrasi,” tutur dia.

Selanjutnya, mengidentifikasi regulasi terkait pembangunan fasilitas integrasi serta skema kelembagaan pengelolaannya dan mekanisme profit-sharing.

“Kedepannya diharapkan dapat tercipta kerangka hukum atau peraturan perundang-undangan, perumusan tata kelola fasilitas integrasi, skema pembiayaan, dan mekanisme penyelenggaraan fasilitas integrasi,” pungkas Sigit. (omy)