Angkasa Pura 2

Revitalisasi Merak-Bakauheni, Jojo: 2018 Kapal Yang Beroperasi Minimal 5.000 GT

Dermaga KoridorKamis, 7 Desember 2017
Pelabuhan Merak

JAKARTA (Beritatrans.com) – Pemerintah memutuskan tidak membangun jembatan selat sunda, kalau Pelabuhan Penyeberangan di Merak dan Bakauheni sangat vital. Kita berencana untuk mengembangkan terminal kelas internasional di Pelabuhan Penyeberangan Merak dan Bakauheni.

Demikian disampaikan Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan (Kemhub) Sugihardjo melalui siaran pers yang diterima Beritatrans.com di Jakarta, kemarin.

Program revitalisasi Penyeberangan Merak-Bakauheni akan dilakukan secepatnya. Untuk melayani permintaan pengguna jasa yang terus meningkat, ke depan hanya kapal-kapal ro ro ukuran besar yang akan diizinkan beroperasi di lintasan penyeberangan Jawa-Sumatera ini.

Sugihardjo atau akrab disapa Jojo juga mengatakan bahwa saat ini ada 6 pasang dermaga yang melayani lintas Merak-Bakauheni. Ia menambahkan mulai tahun 2018 kapal-kapal yang akan melayani Merak-Bakauheni adalah kapal yang berukuran minimum 5.000 gross tonage (GT), serta kecepatan kapal-kapal tersebut akan distandarkan.

“Mulai tahun 2018 kapal-kapal yang beroperasi di pelabuhan Merak dan Bakauheni harus kapal yang minimum berukuran 5.000 GT. Artinya dengan 6 pasang dermaga dan kapal yang berukuran besar itu bisa menampung kebutuhan angkutan darat baik itu truk, bus maupun kendaraan pribadi pada saat puncak,” jelas Jojo.

Selain itu, papar pejabat Kemhub itu, Pemerintah juga akan standarkan kecepatan minimum dari kapal-kapal tersebut sehingga waktu tempuhnya dapat lebih cepat menjadi sekitar satu setengah jam dari sekarang yang normalnya dua jam.

Akibat akan diberlakukannya aturan ini, maka kapal-kapal kecil tidak diperkenankan untuk beroperasi di lintasan Merak-Bakauheni. Karenanya, menurut Jojo kedalaman dermaga di kedua pelabuhan penyeberangan tersebut harus ditambah guna menunjang beroperasinya kapal-kapal besar itu.

“Kapal 5.000 GT harus beroperasi tahun 2018. Jadi tahun depan kapal-kapal kecil tidak boleh beroperasi di sini (Merak-Bakauheni), dan dermaga sendiri kedalaman dan panjangnya juga harus ditambah. Ini simultan semua. Jadi akhir 2018, PT ASDP harus menyelesaikan itu,” lanjut Jojo.

Pelabuhan Ciwandan dan Warnasari

Selain pelabuhan penyeberangan, menurut Jojo, untuk menunjang pergerakan logistik, Pemerintah juga terus membangun dan mengembangkan pelabuhan laut di wilayah Pemprov Banten.

“Pembangunan infrastruktur pelabuhan di Banten seperti Ciwandan, Warnasari dan lain sebagainya itu sangat penting untuk pergerakan logistik. Karena dalam transportasi untuk pergerakan logistik itu menggunakan kapal atau kapal penyeberangan. Banten merupakan sentral untuk menghubungkan Jawa dan Sumatera,” sebut Jojo.

Salah satu sumber untuk pertumbuhan ekonomi adalah dari pariwisata. Ditargetkan tahun 2019, sektor pariwisata menjadi penghasil devisa terbesar. Banten masuk dalam 10 kawasan strategis pariwisata nasional dengan Tanjung Lesung yang menjadi objeknya. Pemerintah saat ini telah melakukan studi guna pembangunan Bandara di Pandeglang untuk menunjang daerah pariwisata tersebut.(helmi)