Angkasa Pura 2

Tahun 2017, Pendapatan Sillo Maritime Perdana Naik 2,5 Kali Lipat Menjadi 45 Juta Dolar

Dermaga Ekonomi & BisnisSaturday, 9 December 2017

JAKARTA(BeritaTrans.com) – Anomali terjadi pada PT Sillo Maritime Perdana Tbk. Saat sebagian perusahaan mengeluhkan lesu industri minyak dan gas (migas) tahun ini, Sillo Maritime justru memastikan bisa membukukan pendapatan pendapatan US$ 45 juta hingga akhir 2017.

Proyeksi pendapatan itu 2,5 kali lipat lebih tinggi ketimbang realisasi pendapatan tahun lalu, Tahun 2016, Sillo Maritime mencetak pendapatan US$ 17,97 juta. Pendapatan itu bahkan lebih kecil ketimbang pendapatan sembilan bulan tahun ini yakni US$ 32,66 juta.

“Proyeksi untuk total aset kami (tahun ini) US$ 189 juta kalau revenue US$ 45 juta, itu berarti mengalami pertumbuhan,” ujar Theresia Herjati, Direktur Utama PT Sillo Maritime Perdana Tbk kepada Kontan.co.id, Jumat (8/12).

Menurut Sillo Martime, penopang kinerja tahun ini adalah beroperasinya kembali kapal floating storage & offloading (FSO) 114. Klien yang menggunakan kapal itu adalah China National Offshore Oil Corporation (CNOOC) dengan masa kontrak hingga tahun 2023.

Anak perusahaan anyar juga turut menopang kinerja Sillo Maritime. Asal tahu, pada Juni 2017 lalu mereka melakukan penyertaan saham sebesar 52% kepada PT Pratama Unggul Lestari. Alhasil, total kapal Sillo Maritime berjumlah 12.

Berkaca dari perjalanan bisnis tahun 2017, Sillo Maritime yakin tahun depan masih bisa mencuil pertumbuhan.

Meskipun, perusahaan yang nangkring dengan kode saham SHIP di Bursa Efek Indonesia itu belum bersedia mengungkapkan target kinerja tahun 2018.

Sillo Maritime juga memastikan tak berencana melebarkan bisnis hingga di luar angkutan jasa migas.

Tak hanya berharap pada kelanjutan tren pertumbuhan tahun ini, Sillo Martime juga memburu tender pekerjaan baru. Tanpa membeberkan detail dan nilai pekerjaan yang dimaksud, mereka mengaku sedang mengikuti beberapa tender jasa migas.

Sikap selektif tetap menjadi pegangan Sillo Maritime. Sejauh ini, mereka hanya melayani perusahaan migas yang sudah berproduksi.

“Balik lagi (tender) semuanya perusahaan yang sudah produksi saja, kalau yang masih eksplorasi masih belum ada,” tutur Sumanto Hartanto, Direktur Operasional PT Sillo Maritime Perdana Tbk.

Tidak pinjam bank

Sejalan dengan target pertumbuhan pendapatan tahun depan, Sillo Maritime berencana menambah jumlah kapal. Informasi mengenai rencana ekspansi ini juga belum terang-benderang.

Manajemen perusahaan hanya memberi gambaran, kemungkinan penambahan aset akan dilakukan melalui anak perusahaan bernama PT Suasa Benua Sukses.

Selain belanja kapal, Sillo Maritime juga berniat mengakuisisi perusahaan lain. Kemungkinan besar, sumber pendanaan itu bukan berasal dari perbankan melainkan lewat rights issue alias penerbitan saham baru.

Manajemen Sillo Maritime beralasan, tak mudah bagi mereka untuk mendapatkan pendanaan rumah dari perbankan. “Kalau memang ada pendanaan yang murah boleh, terus terang tidak gampang cari pendanaan, ya perbankan sekarang berat juga,” beber Theresia.

Dalam catatan KONTAN, Sillo Maritime sudah membeli satu kapal FSO senilai US$ 24 juta pada Agustus 2017 lalu. Kapal itu bakal melayani angkutan jasa migas selama enam tahun mulai akhir Januari 2018. Nilai sewa sekitar US$ 25.000 per hari.

Sillo Maritime juga pernah mengungkapkan rencana membeli satu kapal kecil dengan harga sekitar US$ 2 juta. Mereka juga menjadwalkan operasional kapal itu pada tahun depan.

Selain membeli kapal, tahun ini Sillo Maritime juga menjual kapal. Pada 27 September 2017 misalnya, mereka meneken Akta Jual Beli (AJB) kapal bernama Laksmini kepada PT GHS Maritim Indonesia.

Transaksi jual-beli senilai Rp 16,79 miliar tersebut merupakan transaksi afiliasi dan non material.

(ray/sumber: kontan.co.id).