Angkasa Pura 2

3 Tahun, Ditjen Hubla Berhasil Bangun 104 Pelabuhan

DermagaKamis, 14 Desember 2017
IMG_20171214_131406

JAKARTA (beritatrans.com) – Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan berhasil membangun 104 pelabuhan selama 3 tahun, yakni dari tahun 2015 hingga 2017. Sementara target yang ditetapkan hingga 2019 sebanyak 306 pelabuhan.

Demikian data yang disampaikan Direktur Jenderal Perhubungan Laut Agus Purnomo dalam paparan Capaian Kinerja 2017 dan Outlook 2018 Kementerian Perhubungan yang dirilis hari ini, Kamis (14/12/2017).

Agus Purnomo mengatakan, banyak yang telah dikerjakan oleh Ditjen Hubla selama 3 tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Diantaranya adalah berhasil membangun 33 unit kapal perintis, 5 kapal ternak, lanjutan pembanguna 15 kapal kontainer, 54 pengembangan pelabuhan komersial, menyelesaikan 15 kapal kenavigasian, 96 pelayanan lintas laut, 13 trayek kapal tol laut, dan 1 trayek kapal ternak.

“Program tol laut mulai menampakan hasil dengan memperkecil disparitas harga antara pusat dan daerah, seperti di kawasan timur Indonesia seperti di Maluku dan Papua, terutama untuk komoditas semen dan beras,” kata Agus.

Ia menyontohkan, harga semen di Wamena, Papua yang semula Rp500.000,- per sak berhasil turun sebesar 40% yaitu jadi Rp300.000,- per sak. Harga beras di Tobelo, Maluku Utara dari Rp13.000., per kilogram menjadi Rp10.000,- per kilogram atau berhasil turun sebesar 20%.

Capaian lainnya adalah penurunan dwelling time di 4 pelabuhan utama (Medan, Jakarta, Surabaya, dan Makassar) yang rata-rata 3,5 hari dari sebelumnya rata-rata sekitar 5,5 hari.

Selama tahun 2017, Ditjen Hubla juga berhasil menerapkan inaportnet yaitu pelayanan kapal dan barang berbasis internet di 16 pelabuhan.

Capaian lainnya adalah berhasil melakukan pemanduan di Selat Malaka, direct call kapal CGM-CMA dengan rute Pelabuhan Tanjung Priok menuju Los Angeles.

“Tahun ini pun kami berhasil terpilih kembali sebagai anggota dewan International Maritime Organisation kategori C untuk periode 2017-2019,” kata Agus.

Keterpilihan Indonesia sebagai anggota dewan IMO tersebut menurut Agus, merupakan bentuk pengakuan dunia terhadap Indonesia sebagai negara maritim. (aliy)

loading...