Angkasa Pura 2

ALFI DKI Tidak Yakin CFS Center Mampu Turunkan Biaya Logistik

DermagaMinggu, 17 Desember 2017
IMG-20171115-WA0026-600x400

JAKARTA (BeritaTrans.com)
- Sekum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) DKI Adil Karim tidak yakin pemanfaatan Container Freight Station (CFS) Center dapat menurunkan biaya logistik.

CFS Center yaitu fasilitas tempat penyimpanan kargo impor berstatus Less than Container Load (LCL) atau penerima lebih dari satu consignee dan masih dalam pengawasan Bea dan Cukai.

Bincang bincang dengan BeritaTrans.com, Minggu (17/12/2017), Adil mengatakan ALFI sudah pernah bertemu dengan Pelindo II Cabang Tanjung Priok sebagai operator untuk membicarakan CFS Center.

Dalam pertemuan itu ALFI minta Pelindo II Cabang Tanjung Priok memberikan simulasi/presentasi bahwa CFS Center dapat memepercepat layanan, tapi Pelindo II Cabang Tanjung Priok belum bisa memenuhi permintaan ALFI, ujar Adil.

“Kita juga minta kajian tentang CFS Center juga belum dapat memenuhi permintaan ALFI. Gimana kami yakin CFS Center dapat menurunkan biaya logistik kalau hitung hitungannya saja tak jelas, ” tegas Adil Karim.

Belum lagi kajian traffic (kelancaran lalulintas) di dalam pelabuhan jika CFS Center terpusat di PT Multi Terminal Indonesia (MTI), PT Agung Raya Warehouse dan eks lahan Masaji Kargo Tama (MKT). Karena lokasinya sangat dekat dengan pintu masuk Pos 9 dan pintu keluar Pos 8.

“Saat ini saja kami amati setiap hari kendaraan truk dan mobil box mau masuk gudang Agung Raya untuk ambil barang LCL antri sampe 3 lapis bercampur dengan trailer.”, tegas Adil.

Sekarang saja sudah ganggu kelancaran lalu lintas di dalam pelabuhan. “Kami sudah katakan kalau mau buat CFS Center lokasinya di luar pelabuhan dan terintegrasi dengan system yang ada supaya tidak mengganggu kelancaran arus barang ekspor impor. Itu baru solusi bukan hanya kepentingan bisnis saja,” kata Adil.

“Kalau ada pihak yang menyebut
CFS Center dapat memangkas biaya logistik 10%. Saya balik bertanya hitung-hitungannya dari mana?” ujar Adil dengan nada bertanya. (wilam)