Angkasa Pura 2

Balitbanghub Evaluasi Survey ATTN Menggunakan Data Seluler

LitbangJumat, 22 Desember 2017
IMG_20171221_085525

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Survey Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan (Balitbanghub) tentang asal tujuan transportasi nasional (ATTN) terus dikembangkan.

Bila sebelumnya menggunakan metoda wawancara dan non wawancara, bersamaan dengan perkembangan teknologi informasi, maka tahun 2017 mulai beralih menggunakan data seluler.

Penelitian menggunakan data seluler, menurut Calabrese F. Dio M dalam “Understanding Individual Mobility Patterns From Urban Sensing Data: Mobile Trace Example” Riset Transportasi menyebutkan bahwa penelitian dengan data seluler memperlhatkan teknik untuk mengekstrak data informasi mobilitas yang didapatkan dari jejak telepon seluler dari jutaan pengguna untuk menginvestasi pola pergerakan individu di dalam wilayah perkotaan.

Pada Focus Group Discussion (FGD) Evaluasi Metodologi dan Uji Coba Survey Pergerakan Orang di Jakarta, Rabu (20/12/2017), Kepala Badan Litbanghub Umiyatun Hayati Triastuti menyampaikan bahwa ada tiga aspek yang perlu diperjelas pada metoda survey dengan data seluler.

“Pertama aspek legal penggunaan data seluler, aspek metodologi sejauhmana pemanfaatan data seluler dapat diterima secara ilmiah, dan aspek pembiayaan khususnya pengadaan data seluler,” ujar Kepala Badan Litbanghub.

Pengamat Transportasi dari Universitas Indonesia (UI) Ellen Tangkudung menambahkan, dalam survey ATTN menggunakan data seluler harus ditegaskan bagaimana cara pencatatan pengguna selulernya meski sangat membantu mendapatkan data yang lebih luas.

“Namun data tidak dapat yang detil, seperti moda yang digunakan, perjalanan untuk alasan apa, untuk bekerjakah atau untuk sosial dan lain sebagainya,” ungkap Ellen.

Selain itu, dia juga menyoroti agar data seluler tidak hanya pergerakan saja namun ditambah dengan informasi asal tujuan. Selain itu juga dalam pengadaan spesifikasi teknis harus fasih dan detil.

Masukan dari Kemenkominfo terhadap survey menggunakan data seluler adalah agar bisa diperoleh jenis moda yang digunakan dan populasi pengguna seluler. Selain itu juga agar didefinisikan kembali pergerakan dan pola perjalanan.

Sedangkan dari perwakilan Perum DAMRI yang hadir, meminta agar melibatkan semua provider karena coverage area masing-masing berbeda.

Akademisi dari ITB Bandung Bona menyebutkan bahwa perlu dilakukan pemisahan antara zona Kabupaten/Kota dengan zona simpul untuk mendapatkan jenis moda dengan lebih mudah.

“Data sekunder angkutan umum akan dioptimalkan untuk mengantisipasi blank spot seluler,” tuturnya. (omy)