Angkasa Pura 2

Catatan Darmaningtyas (2):  Pengemudi Sangat Lelah Sampai Tak Ganti Pakaian

Koridor SDMSelasa, 26 Desember 2017
IMG-20171226-WA0023

JAKARTA (Beritatrans.com) – Mudik Gratis liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2018  memang masih perlu ditingkatkan dan disempurnakan lagi. Termasuk dari sisi keselamatan. Jangan sampai ikut mudik gratis pemerintah justru menjadi korban celaka.

Berikut ini pengalaman pengamat transportasi dan Direktur Intrans  Darmaningtyas yang ikut langsung dalam perjalanan mudik gratis Nataru menuju Yogyakarta. Ternyata tak semua menyenangkan.

Saya bertambah sedih lagi ketika mendengar riwayat perjalanan mereka (para pengemudi bus yang melayani mudik gratis). Dalam satu minggu terakhir, mereka itu berangkat dari pool Yogya menuju Purwokerto pada Sabtu (16/12/2017) malam.

Minggu pagi (17/12/2017) mereka membawa penumpang dari Purwokerto menuju Malang, terus lanjut ke Bromo. Dari Bromo langsung menuju Malang, dari Malang balik ke Purwokerto, dan lanjut ke Jakarta menjemput rombongan mudik bareng Kemenub – Jasa Raharja menuju Yogya.

Dari Yogyakarta, mereka  langsung ke menuju  Bawen menjemput rombongan untuk dibawa ke Pantai Baron. Dari Baron balik Bawen lagi terus lanjut ke Jakarta dan Bandung. 

Dengan jadwal yang padat seperti itu, perjalanan jarak jauh, dan kondisi lalin macet; dengan menyediakan satu pengemudi tentu sudah tidak berperikemanusiaan dan mengabaikan aspek keselamatan penumpang.

Mereka bukan hanya capek dan lelah, tapi soal ganti pakaian pun crew itu tidak punya waktu lagi. Pasalnya, stok yang dibawa cuma satu minggu  tapi perjalanannya lebih dari satu minggu.  Mau mencucikan juga tidak mungkin karena waktu istirahat serba terbatas. 

Jatah uang makan mereka itu Yogyakarta– Jakarta PP hanya Rp90.000,-. Wajar bila saat di Ancol saya tanya pengemudi dari Semarang katanya belum makan pagi karena jawabnya tidak ada warung. Saya menangkap pesan tersebut yang dimaksud adalah warung yang terjangkau oleh kantong mereka.

Mereka merasa tertolong kalau ada penumpang berbaik hati memberikan makanan atau tip sehingga dapat menyambung kebutuhan makan mereka. Tapi ni sifatnya spekulatif mengingat penumpang bus itu sendiri umumnya dari golongan menengah ke bawah. 

Komisi Hanya 10%

Honor mereka sebagai pengemudi maupun kernet dihitung berdasaarkan prosentase: kernet 5%, sedangkan pengemudi 10% dihitung dari sewa bersih (harga sewa dikurangi untuk beli solar dan pengeluaran operasional lainnya).

Jadi kalau misalkan sewanya Rp 2.000.000,- sementara pengeluaran operasionalnya mencapai Rp500.000, berarti komisi mereka dihitung 5% dan 10% dari Rp1,5 juta. Uang komisi mereka itu masuk ke rekening masing-masing yang ATM-nya dipegang oleh istri.

Kasus ini memang langkah perusahaan yang betul untuk mengamankan uang kerja agar tidak untuk royal. Tapi dampaknya mereka tidak pernah pegang uang lebih untuk keperluan yang mendadak.**

(Darmaningtyas, Direktur Instrans)

loading...