Angkasa Pura 2

Nasib Perih 81 ABK Indonesia, Dipindah dari Kapal Ikan Fu Yuan Yu ke Ocean Star 98, Tak Digaji, Makan Dibatasi & Tidur di Palka

Dermaga Kelautan & PerikananKamis, 28 Desember 2017
beb51927b3abb5b

2017-12-28 19.45.20

2017-12-28 19.46.47

BEKASI (BeritaTrans.com) – Tahun 2012 silam terbongkar kasus penelantaran, perbudakan, dan perdagangan orang yang dialami oleh 203 ABK WNI di Trinidad and Tobago.

Kemudian, di tahun yang sama hanya selisih beberapa bulan kembali terkuak kasus serupa, dimana terjadi penelantaran terhadap 74 ABK WNI di Cape Town, Afrika.

Kini, di penghujung tahun 2017, terdapat 81 ABK WNI yang lagi-lagi menjadi korban penelantaran di luar negeri. Mereka, mengadukan permasalahan yang sedang dialami di atas kapal Kolekting (pengangkut ikan) Ocean Star 98 kepada Pergerakan Pelaut Indonesia (PPI) pada 23 Desember 2017.

“Kami dihubungi lewat facebook. Mereka ngadu kalau nasibnya enggak jelas, gaji belum dibayar semua,” ujar Ketua Advokasi, Hukum, dan Hak Asasi Manusia PPI, Imam Syafi’i kepada Liputan BMI, Kamis (28/12/17).

Candra, salah satu dari para korban kepada Imam menyatakan bahwa mereka semua sebelumnya dipekerjakan di atas kapal-kapal operasi (penangkap ikan) Fu Yuan Yu.

“Kami saat ini ditampung di kapal Ocean Star 98 dan disuruh tidur di Palka (tempat penampung ikan) oleh atasan di atas kapal. Tempat enggak layak, makan, minum dan BAB dibatasi, bahkan kalau berlebih kena potong 200 Yuan,” ungkap Candra.

Masih menurut Candra, kata Imam, ke-81 ABK tersebut mengaku berangkat dari delapan perusahaan di Indonesia.
Mereka diupah per bulan berbeda-beda, dari mulai paling kecil 280 hingga paling besar 400 USD dengan sistem Delegasi (terima di atas kapal 50 USD tiap bulan dan diberikan saat kapal sandar, dipotong Owner sebagai jaminan dari mulai 560 sampai 800 USD, dan sisanya dikirim ke PT di Indonesia, kemudian dipotong lagi 500 USD oleh PT, barulah sisanya diberikan kepada pihak keluarga para ABK).

PPI sudah melaporkan kasus tersebut ke Kementerian Luar Negeri, Kementerian Ketenagakerjaan, dan KJRI di Guangzhou, Cina.

“Kemarin KJRI sudah menghubungi salah satu korban dan menanyakan kronologis serta tuntutan para ABK. Saat ini KJRI sedang berupaya menuntut owner di sana, sementara tadi saya dihubungi Kemlu dan ditanya sistem penggajian mereka (para ABK) bagaimana dan PPI sudah jelaskan,” pungkas Imam seperti dikutip liputanbmi.com.
(dien).