Angkasa Pura 2

YLKI: Apapun Alasannya Debt Collector Tidak Dibenarkan

Another News KoridorKamis, 4 Januari 2018
Tulus Abadi

JAKARTA (Beritatrans.com) – Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menegaskan, apapun alasannya debt collector tidak dibenarkan. Apalagi mereka yang bekerja dengan gaya premanisme.

Dikatakan, bekerja dengan cara-cara premanisme dan kekerasan seperti debt collector tidak dibenarkan. “YLKI tak pernah setuju dengan sistem kerja seperti itu,” kata Tulus menjawab beritatrans.com dan aksi.id di Jakarta, Kamis (4/1/2018) malam.

“Perlu ketegasan dari Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk membina dan mengatur perusahaan jasa keamanan dan para debt collector yang disewa beberapa perusahaan saat ini,” jelas Tulus.

Belakangan, banyak nasabah sebuah bank dan multifinance mengaku gerah karena dikejar-kejar debt collector layaknya seorang pencuri. Padahal, data dan identitas nasabah kartu kredit atau kredit mobil dan motor ada lengkap di perusahaan tempatnya berutang.

Sebelumnya, wawan, seorang nasabah bank di Bandung dan Bashori nasabah sebuah multifinance mengeluhkan kerja para debt collector. “Baru telat bayar angsuran beberapa hari, sudah ditagih dan dikejar-kejar bak maling,” kata Wawan.

Pendapat serupa juga disampaikan Bashori. Dia mengaku telat membayar angsuran mobil di sebuah multidinenace, ternyata sudah disamperin dect collecot. “Yang datang ke rumah sosok berwajah seram lagi. Kita sendiri tak sengaja telat membayar angsuran itu,” sebut Bashori.

Tulus mengakui, selama tahun 2017 lalu banyak pengaduan ke YLKI terkait kerja para debt collector ini “Sayang, saya tak pegang datanya secara konkrit. Di sini, negara perlu hadir, palung tidak diwakili BI dan OJK,” tegas Tulus.(helmi)