Angkasa Pura 2

ALFI Sudah Prediksi CFS Center Pelindo II Tidak Bakal Mampu Percepat Layanan & Efisiensi Biaya

Another News DermagaSabtu, 6 Januari 2018
20160411_133442-1-1-1-600x400

JAKARTA (BeritaTrans.com)
- Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) DKI sudah prediksi kehadiran Container Freight Station (CFS) Center di Pelabuhan Tanjung Priok tidak akan banyak pengaruhnya terhadap percepatan pelayanan mau pun efisiensi biaya layanan barang impor LCL.

Ketum DPW ALFI DKI, Widijanto didampingi Sekum Adil Karim, Jumat (5/1/2018) mengatakan ALFI sejak awal sudah tidak yakin CFS Center ini dapat menurunkan biaya mau pun percepatan pelayanan.

Pasalnya , dalam pertemuan membahas CFS Center beberapa waktu lalu, Pelabuhan Cabang Tanjung Priok sebagai pengelola tidak siap memberikan simulasi/ presentasi kepada ALFI menyangkut konsep mau pun kajian CFS Center tersebut.

“Karena itu ALFI menganggap konsep CFS Center yang dibangun Pelindo II masih prematur. Sebab belum jelas langkahnya menyangkut upaya efisiensi mau pun percepatan layanan,” tambah Adil Karim.

Dugaan ALFI terbukti, kata Adil, belakangan ini banyak Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan (PPJK) anggota ALFI sebagai wakil pemilik barang mengeluh. Karena sejak pembayaran melalui billing CFS Center pengeluaran barang menjadi lebih lama.

Menurut laporan PPJK, kata Adil, penerapan CFS Center justru memperpanjang birokrasi pengurusan barang. ” Kalau sebelumnya mereka cukup membayar ke PBM/Forwarder, lalu bukti bayar ditunjukkan kepada petugas gudang, barang langsung bisa keluar.”

Tapi sejak pembayaran melalui billing CFS pengeluran barang jadi lamban. Karena baik PBM/ Forwarding mau pun PPJK harus sama sama datang ke billing CFS Center.

PBM/Forwarder wajib datang untuk membayar tarif pergudangan sesuai SK Direksi Pelindo II. Sedangkan PPJK datang untuk menyerahkan dokumen seperti copy SPPB, DO asli dan copynya serta copy invoice tanda sudah bayar ke PBM/Forwarding.

Pengeluaran barang semakin lama kalau salah satu dari PBM/ Forwarding atau PPJK belum datang harus nunggu dulu sampai semuanya hadir baru bisa dilayani. Apa lagi terkadang sistemnya bermasalah harus menunggu lagi.

Sementara, pemilik barang belum merasakan adanya efisiensi biaya karena mereka tetap seperti sebelumnya harus membayar pada PBM/Forwarder berdasarkan biaya yang ditentukan PBM/Forwarder.

Sedangkan pedoman besaran tarif yang harus dibayar pemilik barang tidak ada. Karena tarifnya sudah kadaluwarsa sejak tahun 2010.

Adil mengatakan kalau mau membangun CFS Center yang baik harus melalui kajian yang jelas arahnya agar bermanfaat baik dari aspek efisiensi biaya , percepatan layanan mau pun aspek traffic di dalam pelabuhan. (wilam)