Angkasa Pura 2

GINSI Lapor Kepala OP: Behandle Di NPCT One Tak Profesional & Banyak Pungli

DermagaSabtu, 6 Januari 2018
35143e830e4c9046e3751aca5e884e76-600x400-600x400

JAKARTA (BeritaTrans.com)
- Ketua BPD Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) DKI Capt Subandi memprotes pelayanan behandle (pemeriksaan fisik barang /petikemas) di Terminal Petikemas NPCT One Tanjung Priok tidak profesional.

Dampak dari proses bahandle ‘amatiran’ ini pemilik barang dirugikan karena harus bayar lagi biaya storage (biaya penumpukan) akibat pemeriksaan tertunda dan barang tidak bisa keluar.

“Kasus ini sudah saya laporkan kepada Kepala Otortas Pelabuhan (OP) Tanjung Priok, Arif Toha Sabtu (6/1/2018),” kata Subandi kepada BeritaTrans.com, Sabtu malam.Kegiatan behandle di NPCT One ditangani anak perusahaan Pelindo II, IPC TPK.

Bincang bincang dengan BeritaTrans.com, Subabdi mengatakan 32 kontainer barang impor miliknya terkena behandle (pemeriksaan fisik ) oleh petugas karantina dan jalur merah oleh petugas Bea dan Cukai, Sabtu.

Sesuai ketentuan, katanya yang wajib diperiksa sebabyak 30% dari 32 kontainer atau sekitar 10 kontainer. Pemeriksaan karantina sudah selesai dilakukan.

Tapi saat petugas Bea dan Cukai baru melakukan pemeriksaan 8 dari 10 kontainer, tiba tiba reach stacker NPCT One rusak sehingga 2 kontainer lagi belum ditarik ke tempat pemeriksaan (long room).

“Setelah saya protes keras ke manajemen NPCT One baru sisa 2 kontainer ditarik ke long room. Namun secara bisnis sudah tidak ada gunanya lagi karena petugas Bea Cukai hari Sabtu hanya kerja setengah hari alias sudah pulang dan pemeriksaan dilanjutkan Senin (8/1/2018),” ujarnya.

“Akibatnya 32 kontainer saya harus nginap lagi 3 hari sampai Senin. Ini artinya saya harus mengeluarkan lagi biaya penumpukan sekitar 30 juta,” tegas Capt Subandi.

“Pihak Terminal dan pengelola behandle tidak bisa hanya minta maaf jika ada pelayanan buruk seperti ini. Kejadian ini tidak hanya dialami pada cargo saya tapi juga pada cargo importir yang lain,” tegasnya.

“Sekalian saya juga lapor kepada Kepala OP prilaku pungutan liar (pungli) yang dilakukan oleh okum buruh di tempat behandle,” tegas Subandi.

Subandi mengatakan para buruh yang mengerjakan bahandel (stripping/ stuffing ) masih meminta uang pada EMKL atau pemilik barang dengan besaran bervariasi antara 100 ribu s/d 1 juta per kontainer. Padahal upah mereka sudah dibayar dalam biaya behandle.

Pungli seperti ini diketahui oleh para operator behandle dan Terminal Petikemas tapi semuanya diam tidak mau bertindak.

Sudah saatnya tim saber pungli diturunkan untuk menertibkan pungli yang marak di tempat behandle, ujarnya.

Sementara Direktur NPCT One Suparjo menjawab BeritaTrans.com via WA hanya mengatakan: ” Saya sudah komunikasi siang tadi dengan Capt Subandi dan ditindaklanjuti di lapangan.” (wilam)

loading...