Angkasa Pura 2

Dirjen Agus Nyatakan Penerbangan Tambahan Libur Nataru Sangat Tinggi

Bandara KokpitSenin, 8 Januari 2018
IMG-20180106-WA0007

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Agus Santoso menyatakan bahwa penerbangan tambahan angkutan libur Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 (Nataru) sangat tinggi.

“Pada penerbangan domestik terealisasi 74,55 persen, yaitu 779 penerbangan dari 1.045 penerbangan ekstra  yang direncanakan. Sedangkan untuk extra flight penerbangan internasional terealisasi 98,61 persen, yaitu 71 penerbangan ekstra yang terealisasi dari 72 penerbangan ekstra yang direncanakan,” jelasnya di Jakarta, ditulis Senin (8/1/2018).

Agus menyambut baik realisasi penerbangan tambahan yang tinggi tersebut. Hal ini menandakan bahwa penyelenggaraan penerbangan ternyata juga bisa dilakukan di waktu-waktu yang dianggap tidak favorit dan tetap diminati penumpang.

Jika hal tersebut bisa tetap dilaksanakan di luar waktu peak season, tentu bisa mengurangi beban operasional bandara pada jam-jam sibuk. Dengan demikian keselamatan penerbangan juga bisa semakin ditingkatkan.

“Extra Flight itu dilakukan di jam-jam yang dianggap tidak favorit bagi penumpang, seperti di siang tengah hari atau malam dini hari dan ternyata tetap diminati, terlepas bahwa saat ini adalah peak season. Jika penerbangan di waktu-waktu tersebut  juga dilaksanakan di luar peak season oleh maskapai penerbangan, tentu slot penerbangan akan bisa disebar lebih merata,” ujarnya.

Dengan demikian beban kerja pengatur penerbangan juga bisa lebih diratakan dan lebih ringan karena konsentrasi pengontrolan bisa diratakan. Ini sangat berarti untuk lebih meningkatkan keselamatan penerbangan.

“Memang tantangan dalam hal pengaturan slot time penerbangan adalah keinginan maskapai dan penumpang untuk melakukan operasional pada jam-jam tertentu yang sering disebut peak hour atau golden time. Yaitu pada pagi hari antara pukul 06.00 – 09.00 dan sore hari antara pukul 16.00 – 17.00,” ungkap dia.

Hal tersebut ditambahkan Agus, berkaitan dengan aktivitas kegiatan masyarakat dan juga jam operasional bandara. Semua maskapai penerbangan selalu ingin melakukan operasi penerbangan pada peak hour atau golden time tersebut, sehingga mengakibatkan padatnya jadwal penerbangan dan beban kerja yang tinggi terkonsentrasi pada pengatur operasional penerbangan baik itu dari pihak bandara, maskapai, ground handling maupun navigasi penerbangan. 

“Sementara itu jadwal penerbangan di luar peak hour atau golden time tersebut cenderung sedikit bahkan boleh disebut kosong,” katanya.

Menurut dia, operasional penerbangan tambahan saat peak season sangat bagus untuk dijadikan bahan pelajaran bagi para penyelenggara penerbangan dan masyarakat untuk lebih bisa mengatur waktu penerbangan.

“Sehingga lebih merata setiap harinya. Dengan demikian keselamatan, keamanan dan kenyamanan penerbangan juga bisa lebih ditingkatkan,” pungkas Agus. (omy)

loading...