Angkasa Pura 2

Made Cika: Banyak Pelaut Indonesia Yang Gaptek

SDMSelasa, 9 Januari 2018
IMG-20180108-WA0020

JAKARTA (Beritatrans.com) – Alumni ATT PIP Semarang I Made Cika, MT, M.Mar.E menyebutkan, pengalaman bekerja di perusahaan pelayaran NYK Jepang termasuk saat rekrutmen pegawai baru dari Indonesia masih banyak yang harus dibenahi dan ditingkatkan. Banyak kelemahan pelaut-pelaut Indonesia yang perlu dibenahi jika ingin sukses bekerja di pelayaran asing.

“Saat test penyaringan, ternyata masih banyak pelaut Indonesia yang gagap teknologi (gaptek). Belum lagi kemampuan Bahasa Inggrisnya yang juga masih minim,” kata Cika, dalam perbincamgan dengan Beritatrans.com di Jakarta, Senin (8/1/2018).

Dikatakan, mereka juga kurang menguasai aspek estetika, dan aspek keselamatan sendiri. Kondisi tersebut bisa berbahaya, bukan hanya pada orang lain tapi juga dia sendiri di tempat kerja.

Pernah Cika mendapati, ada pelaut bekerjadi kapal. Dia lekaukan kerla las, dan menyambungkan beberapa komponen di kapal. Tapi dia lupa, setelah semua selesai dilas, ternyata dia sendiri tak bisa keluar dari tempatnya bekerja karena semua sudah beres dilas dan tak ada space untuk pintu keluar.

Kasus-kasus seperti ini, terang Cika, jangan sampai terjadi lagi. Oleh karenanya, pelaut Indonesia harus belajar dan mengasah kemampuan diri sebaik-baiknya di kampus. Fasilitas diklat termasuk lab dan workshop juga harus lengkap sesuai dinamika di lapangan.

“Kasus-kasus memalukan tersebut jangan sampai terjadi lagi. Itulah sebabnya harus ada sinergi antara lembaga diklat, perusahaan pelayaran serta galangan kapal. Indonesia kini sudah kalah dari Filiphina, dalam diklat pelaut. Negeri ini jangan sampai kita kalah lagi dengan Vietnam, Burma, Bangladesh dan lainnya,” tandas Cika.

Estetika dan Berkeselamatan

Pernah juga, ada pelaut yang memasang boiler kapal tapi dilas dengan dinding kapal. AKibatnya, jika akan dilakukan perawatan atau perbaikan, menjadi susah, bahkan tak bisa dilakukan. “Masalah membersihkan boiler tapi dilakukan dengan menjebol dinding kapal,” tanya Cika diplomatis.

Bekerja di kapal, terutama perwira mesin harus menguasai teknologi perkapalan. Dia juga bisa bekerja dengan tata cara dan teknik kerja yang baik, benar dan selamat. “Jangan sampai hasil kerjaan kita, justru membahayakan keselamatan kapal berikut penumpang dan barang yang dibawanya,” papar Cika.

Itulah, menurut Cika, beberaoa kasus dan kendala para pelaut Indonesia termasuk perwiranya. Masih banyak yang perlu dibenahi dan ditingkatkan dalam pendidikan pelaut do Tanah Air.

“Pelaut Indonesia berpeluang mengisi formasi kebutuhan SDM di kapal. Tapi, mereka harus benar-benar berkualitas, pilih tanding dan siap bekerja keras,” tandas Cika.(helmi)