Angkasa Pura 2

Djoko: Upaya Penataan Transportasi Perkotaan di Indonesia Menuju Transportasi Humanis Turun

Koridor OtomotifSelasa, 9 Januari 2018
Motor-di-jalan-thamrin

JAKARTA (Beritatrans.com) – Dampak buruk pembangunan yang berorientasi kendaraan bermotor adalah kualitas udara, kebisingan dan getaran, kecelakaan, perubahan iklim global, habitat alam, pembuangan limbah, kemacetan, keamanan energi, keefisienan ekonomi.

Demikian disampaikan Kepala Lab Transportasi Unika Soegijopranoto Semarang Djoko Setijowarno, ST, MT kepada BeritaTrans.com di Jakarta, Selasa (9/1/2018).

Yang jelas, lanjut dia, dampak buruk dari pembatalan Pergub 195/2014 oleh MA semangat instansi yang terkait transportasi untuk membuat upaya penataan transportasi perkotaan di Indonesia menuju transportasi humanis menurun.

Dikatakan Djoko, angka kecelakaan lalu lintas tahun 2016, sebesar 71,3% adalah sepeda motor. Sementara tahun 2012, sepeda motor sebagai penyebab kecelakaan baru 68%.

Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Thamrin sekarang sedang ada pekerjaan pembangunan MRT, sering membuat kemacetan. Apalagi nanti ditambah sepeda motor lagi. Mkin semparut ditambah lagi jika mereka tak tertib lalu lintas, maka dampaknya makin buruk.

Tambah Semprawut

“Jika semeda motor kembali masuk pasti akan semakin tambah semrawut. Transportasi Jakarta akan semakin buruk yang akhirnya citra Jakarta menuju kota transportasi berkelanjutan makin terpuruk,” jelas Djoko.

Di lain sisi, menurut Djoko, BPTJ sudah membuat Rencana Induk Transportasi Jabodetabek. Salah satu sasarannya adalah sharing penggunaan angkutan umum sebesar 60%.

Upaya pelarangan ini sebenarnya masih bisa diberlakukan lagi, jika Pemprov. DKI Jakarta berniat membuat aturan yang baru. “Namun, melihat Gubernur DKI Anies yang mendukung pelarangan ini, sulit rasanya ada aturan baru,” sebut Djoko.

Padahal, kilah Djoko, salah satu kunci keberhasilan penataan transportasi di DKI Jakarta dan daerah lain di Indonesia adalah peran kepala daerah.(helmi)