Angkasa Pura 2

20 Nakhoda Perempuan Bekerja di Kapal Maskapai Ekalya Purnamasari Penunjang Pertamina Hulu Mahakam

Dermaga SDMSabtu, 13 Januari 2018
nakhoda-perempuan_20180113_001838

BALIKPAPAN (BeritaTrans.com) – Kapal water jet berpenumpang sekitar 20 orang membawa rombongan membelah lautan 11 km dari Terminal Senipah, Kutai Kartanegara yang merupakan bagian dari Lapangan Senipah Peciko South Mahakam (SPS) menuju tanker MT Gede bermuatan 150 ribu barrel minyak dan kondensat.

Satu-satunya perempuan di kapal tumpangan pekerja migas itu, Jayanti Reski Pabita, sang nakhoda.

Kebetulan, Jumat (12/1/2018) di hari bersejarah dalam industri perniagaan nasional ini, Tribun bersama sejumlah wartawan lainnya berkesempatan mengikuti prosesi pengapalan perdana minyak PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) di wilayah Kerja Mahakam itu.

Seperti biasa, di setiap lokasi yang kunjungi ada berbagai macam standar keamanan yang musti dipatuhi tiap orang, termasuk rombongan, yang hari itu diberikan tanda pengenal bertuliskan VIP Visitors.

Standar keamanan berlapis terasa saat masuk ke dermaga penyeberangan.

Hanya untuk menyeberang empat langkah menuju kapal cepat, tiap penumpang dengan pakaian safety lengkap, wajib mengenakan jaket pelampung keselamatan.

Powerjet melaju dengan kecepatan sekitar 20 knot/jam, ombak kecil yang bergerak di laut siang itu, membuat perjalanan terasa santai, sesekali kapal dihantam gelombang dan bergoyang, namun tetap stabil.

“Ombak begini seperti kaya melewati jalan baru diaspal,” kata Yusak Martin Hoan, pekerja dari Departemen Logistik Offshore Operation Pertamina Hulu Mahakam yang mengawal rombongan membuka pembicaraan dengan nada halus setengah bercanda.

Totalnya ada 9 unit kapal milik PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari, subkontraktor PMH untuk menunjang operasional migas Offshore/lepas laut di SPS.

Spesifiknya Powerjet dengan dua varian yakni berukuran 3×4 dan 6×4 penumpang, digunakan untuk antar jemput pergantian penumpang kru.

Standar keamanan di dalam kapal berpendingin udara itu pun lumayan tinggi.

Selain pemeriksaan harian, penyediaan Alat Pemadam Api Ringan, pemecah kaca darurat, kamera CCTV, dan tentunya jaket pelampung dalam kondisi darurat yang lengkap tersedia di bawah bawah kursi tiap penumpang, jauh berbeda dengan pelabuhan penyeberangan Balikpapan menuju Penajam Paser Utara, yang terkadang tidak ditemui jaket keselamatan.

Yusak menjelaskan, tiap kapal terdiri dari seorang nahkoda, dibantu 1 orang chief engineering dan dua abble body atau biasa disebut Anak Buah Kapal (ABK).

Selama 24 jam, 36 ‘pelaut’ ini bekerja bergantian di tiga shift kerja.

Tanpa mereka, pekerjaan pengiriman minyak dan kondensat bakal terhambat, dan berefek pada suplai bahan bakar dan pendapatan Dana Bagi Hasil Migas Kaltim.

“Dari semua, 20 nakhoda adalah perempuan,” ujar Yusak.

Pria yang sudah puluhan tahun bekerja di industri migas ini berujar, tidak ada yang pengecualian dan hal khusus soal pemilihan nahkoda perempuan.

Semua kata dia, rekrutmen dibuka secara umum dan diseleksi ketat dengan standar keamanan tinggi khas perusahaan migas.

Kebanyakan jebolan dari Politeknik Ilmu Pelayaran.

Sementara itu, Jayanti, sang nakhoda jebolan Politeknik Ilmu Pelayaran ini mengaku, sudah dua tahun ini mengemudikan kapal cepat ini, tak lama setelah lulus.

Menjalani profesi yang kebanyakan digeluti kaum Adam ini, bagi perempuan 25 tahun ini, sebuah tantangan tersendiri, sekaligus menunjukan bahwa ia juga mampu seperti kakak lelakinya yang juga berprofesi serupa dengannya.

“Inspirasi dari kakak saya, orangnya pendiam, tegas, jarang kelihatan, tapi sering berlayar ke luar negeri selama berbulan bulan,” kata perempuan 25 tahun berdarah Toraja, di balik kemudi kapal sebelum sandar dan melanjutkan pelayarannya.

Alamat maskapai PT Ekalya Purnamasari Jl. WR. Supratman No.23, DR. Soetomo, Tegalsari, Kota SBY, Jawa Timur 60264

(moy/sumber dan foto: tribunnews.com).

loading...