Angkasa Pura 2

Putusan MA Tak Faktual, YLKI: 76 % Kecelakaan Lalu Lintas Libatkan Sepeda Motor

Koridor OtomotifSabtu, 13 Januari 2018
laka sepeda motor

JAKARTA (Beritatrans.com) – Putusan Mahkamah Agung (MA) yang membatalkan Pergub DKI Jakarta No.195/2014 tentang Larangan Sepeda Motor Melintas di Jalan NH Thamrin-Merdeka Barat banyak mengantongi cacat bawaan.  Sayang, semua itu tak masuk pertimbangan dalam putusan MA.

“MA tidak melihat data faktual bahwa sepeda motor adalah moda transportasi yang paling tidak aman,” kata Ketua YLKI Tulus Abadi saat dikonfirmasi BeritaTrans.com di Jakarta, Sabtu (13/1/2018).

Terbukti, lanjut YLKI,  76 persen kecelakaan lalu lintas melibatkan sepeda motor dengan korban fatal, cacat tetap dan meninggal dunia.

“Apakah MA tidak tahu bahwa lebih dari 30.000 orang Indonesia meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas dan mayoritas adalah pengguna sepeda motor,” tanya Tulus lagi.

Putusan MA itu, menurut YLKI,   juga telah menegasikan berbagai permasalahan sosial yang ditimbulkan oleh kredit sepeda motor. Promosi kredit sepeda motor begitu jor-joran. Iming-iming uang muka dan cicilan murah, menyerimpung konsumen yang rata-rata masyarakat menengah bawah.

“Fenomena kredit sepeda motor dibanyak tempat telah menimbulkan konflik horisontal antara konsumen, dan dengan debt collector. Tragisnya lagi, menurut data BPS, leasing sepeda motor telah memicu tingkat kemiskinan di rumah tangga miskin,” jelas Tulus.

Dengan demikian,  tambah Tulus, substansi putusan MA terhadap Pergub No. 195/2014 banyak mengantongi cacat bawaan, baik dari sisi hukum, sosial, ekonomi dan tentu saja dari sisi managemen transportasi publik. Sangat disesalkan hakim selevel MA menjatuhkan putusan dengan pertimbangan hukum yang sangat mentah. Tanpa dasar argumentasi yang memadai. 

Hikmah dari putusan MA ini, pemerintah harus lebih serius dalam merevitalisasi angkutan umum, dan juga mewujudkan angkutan umum masal. “Dan  selanjutnya, mencari solusi kebijakan lain untuk mengendalikan keberadaan sepeda motor. Tanpa hal itu maka wajah transportasi di Indonesia akan makin carut-marut, semrawut, tingkat safety yang sangat rendah,” tegas Tulus.(helmi)