Angkasa Pura 2

Dampak Kinerja MTI Buruk JICT & Pengguna Jasa Rugi Puluhan Miliar Rupiah

DermagaSenin, 15 Januari 2018
aviary-image-1515948308446-600x400

JAKARTA (BeritaTrans.com)
- Dampak dari penurunan kinerja bongkar muat petikemas di JICT sejak operator RTGC ditangani vendor PT Multi Tally Indonesia (MTI) awal Januari 2018 telah menimbulkan kerugian cukup besar baik bagi JICT mau pun pengguna jasa.

Sekjen SP JICT Firmansyah Sukardiman mengatakan JICT menderita kerugian
Rp 8,7 miliar dari pemasukan CHC dan storage akibat tiga kapal dengan total muatan 4.377 TEUs dipindahkan ke terminal lain serta terjadi double berthing terhadap 3 kapal.

Firmansyah dalam jumpa pers Minggu (14/1/2018) mengatakan kerugian pengguna jasa antara lain diderita pengusaha angkutan sekitar Rp 37,5 miliar.

Angka ini dihitung dari penurunan ritase angkutan rata rata 1 rit perhari karena pelayanan lamban dan macet . Dengan asumsi 1 hari 2.500 trailer in out di JICT x ongkos angkut Rp 1,5 juta/rit x 10 hari pelayanan lamban.

Kerugian pelayaran mencapai Rp 4,8 milir antara lain akibat kapal delay x tarif jasa tambat. Tarif jasa tambat untuk 24 jam (1 etmal) Rp 240.300.000.

Rinciannya 8 kapal delay 6 jam (1/4 etmal) dengan tarif jasa tambat Rp60.075.000 =Rp 480.600.000, 20 kapal delay 12 jam (1/2 etmal) tarif 120.150.000 = 2.403.000.000, 4 kapal delay 18 jam (3/4 etmal) tarif Rp 180.225.000 = Rp 720.900.000, 4 kapal delay 24 jam (1 etmal) tarif Rp 240.300.000 = Rp 961.200.000 dan 1 kapal delay 30 jam (1 1/4 etmal) tarif Rp300.375.000 =Rp 300.375.000.

Menurut pemantauan BeritaTrans. com, akibat pelayanan JICT memburuk sejak pergantian vendor awal Januari lalu pemilik barang (consignee)/wakilnya juga dirugikan.

Kalau barang lebih dari 3 hari di lapangan penumpukan karena tidak bisa keluar terkena finalti Rp300 ribu/hari/ box untuk 20 feet dan Rp 600 ribu/hari/box untuk 40 feet. Belum lagi harus bayar demurage kalau terlambat mengembalikan kontainer sebesar USD 60/hari/box/ukuran 20 feet dan USD 100/hari/box 40 feet.

Firmansyah Sukardiman mengibaratkan proses peralihan vendor operasional di pelabuhan petikemas tersebut bak aksi persekongkolan “jahat”.

“Dia mengatakan persekongkolan seperti itu mengkhawatirkan. Terlebih lagi, menurut dia, dampak kerugian bagi pelanggan, perusahaan dan keamanan negara sangat besar.

Adapun dwelling time Pelindo II tercatat naik 6 hari karena dampak vendor baru JICT. Ditambah kemacetan truk pengangkut petikemas berjam-jam.

Produktivitas JICT hanya 10-15 mph (move per hour). Jauh dari standar pemerintah (26 mph). Antrian truk mencapai 32 jam dan kapal-kapal delay hingga 44 jam,” ungkap Firman.

“Sejak MTI beroperasi, ada lebih dari 14 kecelakaan kerja. Fatalnya, ada 2 petikemas impor yang sudah sampai gudang tapi salah pemilik. Ini bahaya. Pelabuhan kan keamanan negara,” selorohnya.

Firman menegaskan, SP JICT merasa perlu bersuara terkait vendor baru MTI. Menurut dia, sama sekali tidak pantas Direksi membela habis vendor yang tidak kompeten.

“Kalau vendor tidak cakap kinerjanya, harusnya ada evaluasi. Ini jelas sangat janggal. JICT dan pengguna jasa sudah rugi miliaran, produktivitas pelabuhan anjlok dan program pemerintah serta kemanan negara terancam. Tapi Direksi JICT bersama Pelindo II malah back up habis-habisan. Sepertinya memang persekongkolannya jelas,” ujar dia.

Sementara itu Direktur Center For Budget Analysis (CBA) Ucok Sky Khadafi melihat, dampak pergantian vendor JICT ada kaitannya dengan kasus yang sedang disidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Ini pergantian vendor JICT dibikin heboh, tapi seolah jadi kamuflase agar publik lupa kasus perpanjangan kontrak yang sedang disidik KPK,” ujar Ucok. (wilam)