Angkasa Pura 2

BANYAK TUNTUTAN DRIVER TAKSI ONLINE TAK MASUK AKAL

Koridor SDMRabu, 14 Februari 2018
persaingan-taksi-online-dan-konvesional

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Saat ini banyak tuntutan oleh para driver taksi online yang sebenar sudah tidak masuk akal jika tetap mau berbisnis di sektor transportasi umum. Kondisi ini sudah tidak sehat dan bisa keluar dari koridor sebagai negara hukum.

“Padahal, hampir semua keinginan driver online sudah dituruti, asal tidak melanggar prinsip dasar kaidah keselamatan, keamanan dan kenyamanan bertransportasi,”  kata Kepala Lab Transportasi Unika Soegijopranoto Semarang Djoko Setijowarno ST, MT  di Jakarta, Rabu (13/2/2018).

Pada dasarnya, lanjut dia,  operasional transportasi berbasis aplikasi tersebut adalah bermula dari Amerika Serikat (UBER). Kemudian diadopsi oleh Grab di Malaysia dan Gojek di Indonesia.

Perlu dicatat, jelas Djoko,  bahwa aturan terkait otomotif di Amerika Serikat sangat ketat termasuk dalam hal pengujian (inspection).

Semua jenis kendaraan bermotor sudah wajib diuji dan diasuransikan.

Anehnya, nenurut Djoko, begitu aplikasi tersebut diterapkan di Indonesia, para pemilik aplikasi maupun pengemudi tidak mau menuruti ketentuan wajib uji.

“Jadi, mereka hanya mau enaknya saja. Tidak mau ikuti aturan yang semestinya,” kritik Djoko.

Kacaulah hingga sekarang, jika Kementerian Kominfo juga tidak mau membuka akses data aplikator. “Kementerian Kominfo dapat mencabut ijin aplikator yang sudah membuat kegaduhan di negeri ini. Jangan terkesan melindungi,” saran Djoko.

Sudah Over Kuota

Di Jakarta, papar dia, jumlah taksi online Grab  aplikator Go Car sekitar 166 ribu unit. Sementara kuota hanya 36 ribu unit. “Artinya, sisanya harus segera ditutup aplikasinya oleh aplikator,” papar Djoko.

Kementerib Kominfo terkesan melindungi apliikator. “Tidak ada upaya serius untuk memerintahkan aplikator menutup tajsi online yang tidak terdaftar sebagai pengusaha sesuai PM 108/2017,” terang Djoko.

Juga Kementerian Kominfo harus mengaudit dan mengawasi sistem IT yang digunakan. “Karena perusahaan taksi online sudah banyak merugikan driver,” urai Djoko.(helmi)

← Artikel Sebelumnya
Artikel Berikutnya →
loading...