Angkasa Pura 2

Pertamina Dibawah Elia Massa Manik, Arief: Cenderung Merugi dan Tak Ada Terobosan Baru

Energi SDMRabu, 14 Februari 2018
elia massa

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Pengangkatan kembali Elia Massa Manik menjadi Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero) beserta  anggota direksi  lainnya menjadi pertanyaan banyak pihak,  baik pekerja, pengamat dan praktisi migas.

“Kinerja Pertamina tak pernah meningkat dan cenderung akan merugi lagi. Contohnya, satu tahun Elia Massa memimpin, keuntungan Pertamina merosot. Selain itu juga  tak ada terobosan yang signifikan untuk  menciptakan kedaulatan energi,” kritik Presiden Serikat Pekerja BUMN Bersatu Arief Poyuono di Jakarta, Selasa (13/2/2018) malam.

Mejurutnya, faktor politik dan titip menitip elit politik dan kepentingan Pemilu  2019  masih sangat kuat dalam menentukan direksi Pertamina

“Seharusnya, dengan menurunnya keuntungan Pertamina Dan pendapatan Pertamina sudah bisa jadi catatan bagi Pemerintah untuk menganti Dirut Pertamina (Elia Massa Manik),” jelas  Arief.

Dia menambahkan, selama untuk menempatkan  Direksi  Pertamina terutama Dirut Pertamina bukan didasarkan sebuah prestasi yang membawa dampak bagi keuntungan dan pendapatan Pertamina dan lebih kental unsur klik klikannya serta kepentingan importir Minyak  maka selamanya Pertamina akan selalu menjadi BUMN “tempat bancaan.”

Waktu satu tahun lebih seorang Elia Massa memimpin Pertamina, papar Arief,  bukan pendapatan dan keuntungan Pertamina naik. Sebaliknya,  malah melorot serta tidak ada upaya membangun Infrastruktur untuk bisa mengurangi impor BBM

Yang dirasa sangat aneh, menurut Arief,  perusahaan (Pertamina)  yang hampir dikatakan tidak ada pesaingnya di Indonesia  selama satu tahun dipimpin Elia Massa pendapatan dan keuntungannya turun .

“Namun semua ini sudah keputusan pemegang saham dalam hal ini pemerintahan Joko Widodo masih mempertahankan Elia Massa. Masalah nanti,  Direksi yang mengantikan Elia Massa harus kerja keras alias cuci piring,” tegas Arief.(helmi)

Terbaru
Terpopuler
Terkomentari