Angkasa Pura 2

Sekali Lagi, Begini Respon Warga Soal Taksi Online

Koridor OtomotifRabu, 14 Februari 2018
DUoq9D9UMAA7gxb

JAKARTA (BeritaTrans.com) -  Kementerian Perhubungan telah menerbitkan PM 108 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang Dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek yang merupakan payung hukum untuk operasional yang selama ini disebut taksi online.

“PM 108 Tahun 2017 dibuat untuk kesejahteraan driver, menjamin keselamatan dan kenyamanan pengguna serta menciptakan lapangan usaha yang kondusif,” sebut akun @kemenhub151 di Jakarta, kemarin.

Kemenhub melanjutkan, “PM 108 Tahun 2017 juga dibuat untuk mengakomodir semua kepentingan, bukan hanya kepentingan pihak tertentu.”

Respon Masyarakat

Cuitan tersebut ternyata masih mengundang pro dan kontra di masyarakat. Paling tidak dilihat dari respon warganet  terhadap cuitan akun resmi kemenhub tersebut.

Akun @ingloriouswipe “Dengan ada kir, asuransi tak berlaku. Dengan ada stiker di empat sisi mobil, mobil online menjadi lebih mudah untuk menjadi target berjalan para oknum. Ketika sudah hancur, asuransi pun tidak ada. Dengan ada stiker, nyawa driver online terancam setiap saat.”

Akun sriansyah_satria@rizki_gunawan15 menposting,  ”mereka tak pernah bersyukur mas.” Pendapat serupa juga disampaikan  @rizki_gunawan15 @riansyah_satria dan mereka gak pernah Berfikir.”

@rizki_gunawan15 menambahkan,  tak punya otak mas. Sebelum ada taxi online,  apa mau taxi konvensional jemput sampe gang gang? Apa mau menerima trip pendek? Angkot juga pada kumuh- kumuh.  Suka ngetem, suka ada copet. Memang pada tak bersyukur manusia manusia munafik ini mas.”

Sebaliknya,  akun  @ayrak_ahargun menyampaikan pendapat berbeda. “Wkwkwk susah dibaca aturannya. Memangnya kenapa mas? Justru saya baca aturannya makanya saya menolak.”

Bukan Pelaku Jasa Transportasi

Dia melanjutkan, “Makanya diwajarkan kalau mas bukan pelaku di bidang jasa transportasi. Kalau saya gak tau aturan ya mas, lampu merah sudah saya terabas dari dulu. Masuk kerja mungkin main sogok. Pelaksanaan di lapangan cukup sulit bagi mereka yang modal bisa nyupir dan bawa mobil org lain.”

“Tidak semua driver online itu memiliki kendaraan yang digunakan untuk bekerja. Koperasi yang terbentuk pun menarik biaya cukup tinggi untuk masuk. Gitu loh mas…ah mungkin memang saya gak tahu aturan.” tukas warganet ini.

Sedang akun @algiggs5689 menyebutkan, “Bapak tahu tidak, jika pihak aplikator grab, uber, gojek, bisa semena mena memutus mitrakan begitu saja. Dalam jangka waktu 1 bulab pun,; mereka bisa memutusmitrakan.”(helmi)