Angkasa Pura 2

Taksi Online di Negara Maju Juga Pakai Stiker

Koridor Otomotif Telekomunikasi & PosJumat, 16 Februari 2018
IMG-20180215-WA0001

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Soal stiker taksi online di banyak negara di juga  memakai stiker. Di negara-negara maju  kendaraan pribadi yang dioperasikan untuk angkutan umum seperti taksi online ditempeli stiker.

Hal ini  untuk membedakan itu kendaraan pribadi untuk urusan pribadi atau untuk angkutan umum.  “Kalau tidak ada stiker, bagaimana regulator mau mengontrol atau mengawasi keberdaan taxi online,” kata pakar transportasi dan Direktur Instrans Darmaningtyas menjawab BeritaTrans.com  di Jakarta, Jumat  (16/2/2018).

Jadi empat substansi yang mereka (sopir taksi online)  tolak itu tidak bisa diakomodasi. Substabsi yang mereka tolak adalah Kuota, Uji KIR, SIM A Umum, dan Stiker.

 ”Masalah kuota itu penting. Kalau tidak ada kuota,  jelas akan terjadi persaingan pasar yang tidak sehat,” jelas  Tyas sapaan akrab pamong Perguruan Taman Siswa itu.

Ambil contoh, lanjut dia, jika setiap hari di Jakarta ada 1.000.000 orang potensi penumpang. Kalau diperebutkan oleh 200 ribu unit taksi, sehari rata-rata satu taksi online hanya bisa mengangkut lima penumpang.

Kalau tarifnya hanya berkisar Rp30 – Rp 50 ribu sekali angkut, tentu tidak bisa hidup, karena untuk bayar setoran dan beli bensin saja kurang. Tapi kalau hanya diperebutkan 50.000 unit kendaraan per kendaraan bisa ngangkut 20 orang per hari.

Dengan begitu, tamba dia, hanya cukup untuk angsuran mobil, beli bensin, dan bawa pulang. Itulah arti penting kuota. Kuota bisa menjadi salah satu intrumen untuk kontrol dan pembinaan oleh regulator.

“Kalau tidak ada stiker, lalu bagaimana membedakan itu taxi online atau mobil pribadi? Soal KIR dan SIM A umum itu dah given, amanat UU LLAJ,” papar Tyas.(helmi)

Foto: Taksi online Londok, dok Agus Pambagio

loading...