Angkasa Pura 2

FPEM: Harga Batubara Naik Laba PLN Terjun Bebas

EnergiRabu, 21 Februari 2018
images

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Dalam beberapa tahun terakhir harga batubara di pasar internasional terus melambung. Akibatnya, PT PLN (Persero) yang sebagian besar pembangkitnya menggunakan batubara jadi kelimpungan.

“Pada 2016, harganya Rp630.000/ton, lalu naik jadi Rp853.000/ton tahun berikutnya. Inilah yang menyebabkan biaya penyediaan tenaga listrik PLN membengkak sekitar Rp16,18 triliun pada 2017,” kata Toni, Koordinator FORUM PENGEMBANGAN EKONOMI MASYARAKAT (FPEM) di Jakarta, Rabu (21/2/2018).

Tren naiknya harga batubara sepertinya akan terus berlanjut. Pada Januari 2018, harga batubara berkalori 6.322 terkerek lagi ke posisi US$95,54/ton, atau lebih dari Rp. 1.297.000/ton.

“Februari ini, Kementerian ESDM kembali menaikkan harga batubara acuan (HBA) menjadi US$100,69 per ton. Tidak mengherankan bila biaya penyediaan listrik tahun ini diperkirakan bakal naik sekitar Rp23,8 triliun,” jelas  Toni.

PLN dipastikan tidak akan mampu menanggung beratnya beban tersebut sendiri. Indikasinya sudah jelas. “Sampai September 2017 laba PLN tercatat Rp3,06 triliun, terjun bebas dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang Rp10,98 triliun. Jika terus dibiarkan, bisa dipastikan PLN bakal kolaps,” papar Toni lagi.

Padahal PLN diwajibkan merealisasi investasi program 35.000 MW. Kewajiban itu tidak termasuk pembangunan transmisi sepanjang 46.000 km dan Gardu Induk 108.000 MVA. Belum lagi adanya tugas sosial berupa listrik desa untuk daerah terluar, terpencil, dan tertinggal sekitar 5.000 desa.

“Anak SMA saja pasti tahu, bahwa semua itu membutuhkan dana amat besar. Kalau PLN tidak bisa mencetak untung apalagi kalau rugi, bagaimana bisa melaksanakan semua tugas tersebut,” sebut Toni.

Di sisi lain, nenurut dia, penikmat terbesar ekspor adalah para petambang.PT Adaro Energy Tbk saja sampai triwulan III-2017 berhasil meraup laba US$495 juta, naik 76% dibandingkan periode yang sama tahun lalu atau setara dengan Rp6,6 triliun. Itu baru Adaro saja.

“Diperkirakan 10 pengusaha besar
batubara mendapat tambahan pendapatan sekitar Rp 60 trilyun. Mereka inilah yang menguasai 60% produksi 461 juta ton pada 2017. Sementara tambahan royalti yang diterima negara hanya Rp1,3 triliun,” tandas Toni.(helmi)