Angkasa Pura 2

CFS Center Tanjung Priok Tangani Sekitar 7600 Transaksi Lebih /Bulan

DermagaSelasa, 27 Februari 2018
put-600x400

JAKARTA (BeritaTrans.com)
-Fasilitas Container Freight Station (CFS) Center Pelabuhan Tanjung Priok rata rata menangani barang impor bertasus Less than Container Load (LCL) sekitar 7.600 transaksi lebih perbulan.

CFS Center Pelabuhan Tanjung Priok yang diluncurkan November 2017 lalu memanfaatkan gudang Agungraya Public Warehouse (APW) dan gudang CDC Banda yang dikelola (MTI).

Menurut data CFS Center yang dihimpun BeritaTrans.com Senin (26/2/2018), periode 26 Januari sampai 25 Februari 2018, gudang CDC Banda menangani 2.269 transaksi atau rata rata 95 transaksi/hari.

Sementara gudang APW periode 26 Desember 2017 sampai 25 Januari 2018 tercatat menangani 5.356 transaksi atau rata rata 214 transaksi/hari.

Sejak CFS Center diluncurkan Pelindo II November 2017 total transaksi yang ditangani
(minus transaksi APW 26 Januari sampai 25 Februari) tercatat 10.621 transaksi.

Menanggapi keberadaan CFS Center, Ketua DPW Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) DKI Widijanto mengatakan kehadiran CFS Center sulit untuk dapat menurunkan biaya logistik.

Pasalnya, kata Widijanto, dalam bisnis kargo impor berstatus Less than Container Load (LCL) ada dua tarif yang jadi beban pemilik barang yaitu tarif pergudangan dan tarif forwarder local charges.

Sementara tarif CFS Center Pelindo itu hanya tarif pergudangan atau storage. “Itu pun umumya hanya dinikmati forwarder atau mitra gudang ,” ujarnnya.

Sementara pemilik barang tetap membayar berdasarkan invoice forwarding. “Kecuali pasar di luar negeri dikuasai Pelindo II (MTI/Agungraya Public Warehouse) baru biaya logistik bisa turun,” katanya. (wilam)

loading...