Angkasa Pura 2

Revitalisasi Angkutan Umum Jabodetabek (1)

Emplasemen Koridor SDMSabtu, 10 Maret 2018
Djoko-Setijowarno SMG

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Jumlah penduduk Jabodetabek 31.077.315 jiwa dengan 24.897.391 kendaraan bermotor.   Kendaraan bermotor tersebut terdiri 2% angkutan umum, 23% mobil pribadi dan 75% sepeda motor (Rencana Induk Transportasi Jabodetabek).

Total pergerakan di Jabodetabek tahun akhir 2018 akan mencapai 50 juta  dan pergerakan sebesar 47,5 juta per hari.

“Pergerakan dalam kota Jakarta 23,42 juta orang per hari. Pergerakan komuter 4,06 juta orang per hari dan pergerakan melintas Jakarta dan internal Bodetabek 20,02 juta orang per hari,” kata Kepala Lab Transportasi Unika Soegijopranoto Semarang Djoko Setijowarno di Jakarta, Sabtu  (10/3/2018).

Permasalahan sekarang, lamjut dia?  adalah tingkat kemacetan semakin tinggi, sepeda motor makin dominan, angkutan umum makin menurun. Peran angkutan umum massal baru mencapai 2-3%, KRL 3-4%.

“Infrastruktur angkutan massal sangat terbatas, pengadaan bus dan KRL masih belum memenuhi perjalanan. Minimnya pendanaan angkutan umhm, khususnya di Kawasan Bodetabek,” jelas Djoko.

Di Jabodetabek sudah tersedia jaringan KRL Jabodetabek dan Bus Transjakarta. Tahun 2012 baru 6 koridor, sekarang sudah naik menjadi 80 koridor termasuk 13 jalur busway.

“Tahun 2013, jumlah rata-rata 431.886 penumpang per hari. Tahun 2017 sudah meningkat rata-rata 993.992 penumpang per hari. Ada peningkatan 230%” papar Djoko.

Untuk menambah kapasitas KRL sudah sulit dilakukan, karena hampir semua rangkaian sudah 19-12 kereta untuk setiap rangkaian. “Sementara, menambah frekuensi perjalanan, terhambat perlintasan sebidang dengan jalan raya,” kilah Djoko lagi.

Perpanjang Jaringan

Yang paling bisa dilakukan Pemerintah, menurut Djoko, salah satunya adalah memperpanjang jaringan pelayanan KRL hingga Cikarang.

“Sekarang sudah dilakukan, tapi belum bisa maksimal, karena jalur dwi ganda belum selesai terbangun,” papar Djoko.

Di sisi lain, tambah Djoko,  upaya untuk meningkatkan pengguna angkutan umum sesuai Rencana Induk Transportasi Jabodetabek 40% (2019) dan 60% (2039) dibangunlah LRT Jabodebek dan LRT Jakarta.(helmi)