Angkasa Pura 2

Usaha Perikanan di Larantuka NTT Mulai Berkembang Butuh Fasilitas Pendukung

IMG-20180310-WA0033

IMG-20180310-WA0032

LARANTUKA (BeritaTrans.com) – Para Produsen Ikan di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diwakili Ibu Andajani dari PT. Primo Indo Ikan dari desa Halakodanuan atau Waimana II, Kecamatan Ile Mandiri. Kabupaten Flores Timur meminta perhatian pemerintah agar bisa membantu memfasilitasi usaha mereka sehingga bisa berkembang dan sukses merambah ke pasar ekspor.

“Selama ini kami mengirimkan produk ikan beku dari Larantuka ke Maumere 4-5 jam dengan Truck perpendingin/ Thermoking kapasitas muat 5-6 ton. Hal ini dikarenakan medan jalan Maumere-Larantuka belum memungkinkan untuk kendaraan besar,” kata kata Andajani menjawab BeritaTrans.com, Minggu (11/3/2018).

Menurutnya, para produsen ikan di Larantuka NTT berharap pihak Syahbandar Pelabuhan Larantuka dan PT PLN Larantuka bisa menyiapkan sarana seperti penyedian daya listrik di Pelabuhan Larantuka dalam jumlah yang cukup.

“Lebih khusus, produsen ikan di Larantuka berharap Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) atau pun Kementrian Perhubungan berkenan menyediakan reefer container dalam jumlah cukup untuk mengangkut ikan, lengkap genset dan truck thermo king sehingga dapat mendukung progam Tol Laut” kata Andajani lagi.

Bernilai Ekonomi Tinggi

Potensi ikan di Larantuka NTT cukup banyak. Mereka bernilai ekonomi tinggi bahkan menembus pasar ekspor. “Jenis ikan hasil tangkapan di Larantuka dan Sekitarnya antara lain Cakalang dan Tuna,” tutur wanita pengusaha itu.

Dia menyebutkan, harga ikan dalam satu reefer container 20 Feet rata rata Rp400 juta. Sementara, berat muatan ikan dalam satu unit reefer container berkisar 15-17ton,” papar Andajani.

Selain itu, tukas Andajani, para produsen ikan di Larantuka berharap ada tekhnisi reefer container dari Operator Tol Laut yang bertugas dan bertanggung jawab untuk menjaga suhu reefer container agar mutu ikan terjaga.

Ke depan, harap Andajani, perlu ada BUMN asuransi yang meng-cover asuransi pengangkutan dengan premi rendah.

“Jika komoditas ikan asal Larantuka dicover asuransi, ada jaminan keamanan lebih tinggi. Mereka juga bisa bekerja optimal sekaligus menjaga nilai jual ikan tetap tinggi yang menguntungkan semua pihak, baik pelaku, masyarakat sekaligus menyumbang PAD daerah,” tandas Andajani.(helmi)

loading...