Angkasa Pura 2

ALFI: PM 25/2017 & Kesepakatan Operator vs Asosiasi Tak Jalan, Picu Dwelling Time Priok Tinggi

DermagaRabu, 14 Maret 2018
20160301_123111-1-2-1-553x400-600x400-553x400-600x400

JAKARTA (BeritaTran.com)
- Dwelling time (masa inap kontainer impor ) di Pelabuhan Tanjung Priok tetap tinggi. Ini mengindikasikan regulasi PM 25/2017 maupun Kesepakatan Bersama Operator Terminal Petikemas dan Asosiasi Pengguna Jasa Pelayanan Petikemas tertanggal 21 April 2016, tidak berjalan sesuai dengan harapan.

Hal itu diungkapkan Ketum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) DKI Widijanto dalam bincang bincang dengan BeritaTrans. com kemarin.

Widijanto mengatakan dalam PM 25/2017 tentang pemindahan barang long stay disebutkan batas waktu penumpukan barang di lini 1 paling lama 3 hari.

Senafas dengan PM 25/2017, tambah Widijanyo, dalam kesepakatan operator terminal petikemas dan asosiasi pengguna jasa terkait di Pelabuhan Tanjung Priok secara tegas disebutkan kesepakatan itu dimaksudkan antara lain untuk mengurangi dwelling time.

Dalam kesepakatan itu ditetapkan tarif penumpukan jasa petikemas impor secara progresif meliputi: Hari pertama free, hari kedua 300%×tarif dasar , hari ketiga 600%, hari keempat dan seterusnya dihitung setiap harinya 900% × tarif dasar.

Screenshot_2018-03-14-09-10-18-600x400

Widijanto mengatakan tarif progresif sampai 900% dimaksudkan agar pemilik barang tidak menjadikan lini satu tempat penumpukan. “Tapi kalau tarif progresif tidak berpengaruh pada dwelling time atau hanya menambah biaya logistik saja, apa masih perlu dipertahankan? ” ujar Widijanto.

Menurut pantauan BeritaTrans.com Rabu (14/3/2018) dwelling time di Pelabuhan Tanjung Priok rata rata 3,8 hari.

Kalau dilihat per terminal petikemas, dwelling time NPCT One paling tinggi hampir menyentuh 5 hari. (wilam)

loading...