Angkasa Pura 2

Wakil Ketua Komisi V DPR: PM 108/2017 Sebuah Keniscayaan

KoridorSelasa, 20 Maret 2018
persaingan-taksi-online-dan-konvesional

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Kehadiran sebuah aturan bagi penyelenggara taksi dalam jaringan (daring/online) seperti Peraturan Menteri Nomor 108 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang Dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek merupakan sebuah keniscayaan yang tak bisa ditolak.

“Layaknya kehadiran layanan taksi online, aturan untuk mereka pun sebuah keniscayaan. Hendaknya semua pihak mesti legowo, karena PM 108/2017 itu sudah bagus sekali,” jelas Wakil Ketua Komisi V DPR, Muhiddin M. Said di Jakarta, Selasa (20/3/2018).

Langkah yang dilakukan Kementrian Perhubungan (Kemenhub) menurutnya, sama dengan yang terjadi di sejumlah negara maju dalam mengatur bisnis angkutan umum berbasis teknologi.

Keselamatan penumpang merupakan satu hal yang tak bisa ditawar hingga dengan sendirinya dalam kaitan ini merupakan tanggung jawab pemerintah selaku regulator. Permen 108/2017 sudah sangat mengakomodir semua pihak, operator pun harus memberikan dukungan penuh.

“Contohnya untuk urusan KIR, mau tidak mau harus dilaksanakan, sebab kendaraan itu baik punya pribadi angkutan umum baru atau lama, harus diuji kelayakannya, dan ini lumrah untuk semua moda transportasi tak terkecuali angkutan umum,” kata dia.

Adapun soal keluhan mahalnya SIM A Umum ditambahkan Muhiddin, Kemenhub dan para operator bisa duduk bersama untuk membicarakan hal ini. Mungkin kementerian bisa koordinasi dengan Kakorlantas/Dirlantas.

Saya kira soal SIM A Umum itu secara bijak dapat diatasi dengan koordinasi yang baik,” tutur dia.

Sebelumnya, Anggota Komisi V DPR RI Ade Rezki Pratama menyeburkan bahwa langkah Kemenhub pasca terbitnya PM 108/2017 dengan melakukan moratorium rekrutmen pengemudi taksi online suatu hal yang bijak.

Hal itu, disebutkannya lantaran ada kekhawatiran masifnya penambahan pengemudi berbasis online baru yang terus dilakukan perusahaan transportasi online menjadi persaingan tidak sehat.

“Kami melihat banyak sekali dibuka counter pendaftaran driver baru, sehingga bertumbuh masif sekali. Ini tugas Kemenhub. Semakin banyaknya driver ini, tapi tidak seimbang antara demand dan supply,” ungkapnya. (omy)