Angkasa Pura 2

Begini Pidato Ilmiah Jusman di Hadapan Ratusan Mahasiswa di Guangzhou

Figur SDMKamis, 22 Maret 2018
20180320_185741

TIONGKOK (BeritaTrans.com) – University of Finance, Guangzhou menghadirkan Komisaris Utama (Komut) Garuda Indonesia untuk menyampaikan pidato ilmiah yang membuatnya mendapat gelar Profesor Emeretus Keuangan.

Dalam pidato ilmiahnya yang berjudul “A Silk Road in the 21th Century: New Paradigm to Build Stronger Relationship Between The People of Indonesia and China”, Jusman mengemukakan bahwa Indonesia dan Cina dapat memainkan peran yang lebih besar di kawasan dan global, dengan memberdayakan kembali sektor maritimnya dengan perspektif baru yang lebih luas guna menjawab tantangan gobal yang kian kompleks.

“Baik Indonesia dan Cina harus memiliki keberanian dan kesanggupan untuk melindungi investasi, industri dan infrastrukturnya dari berbagai ancaman eksternal.  Untuk bisa menjadi negara yang kuat di bidang ekonomi dan teknologi, tentu saja harus melihat sektor maritim sebagai kekuatan pendorong pertumbuhan yang efektif,” katanya.

Kombinasi antara ketiga aspek kekuatan, yaitu ekonomi, maritim, dan teknologi tersebut tanpa diragukan akan menjadi kekuatan yang besar. Indonesia dan Cina harus menjadikan sektor maritimnya sebagai peta jalan (road map) yang kuat bagi hubungan internasional di masa depan.

Jusman mencontohkan bagaimana kemajuan Cina atas kebijakan One Belt One Road yang dijalankannya di lautan. Dengan pertumbuhan ekonomi maritim yang cepat dan optimisasi industri maritimnya, akan menjadikan kawasan pantai sebagai fokus dari pertumbuhan ekonomi.

“Hal tersebut dapat memunculkan peningkatan ketahanan eksternal dan mempercepat pertumbuhan perusahaan-perusahan, perpindahan personel dan juga keuangan di seluruh dunia,” ungkapnya.

Hal ini tidak saja merefleksikan kemampuan Cina yang besar terhadap penggunaan sumber daya kelautan untuk pengembangan taransportasi dan energi, tetapi juga bagi kepentingan keamanan nasionalnya di berbagai level, seperti energi, industri, administrasi sosial, dan pelayanan publik.

“Dalam sejarahnya Cina memiliki jalur sutera yang menghubungkan Tiongkok dengan berbagai negara lainnya sehingga mampu membangun kebesaran negara di masa itu. Dalam terminologi baru saat ini, Jalur Sutera dapat disebut sebagai ‘One Belt and One Road’ dengan pendekatan hubungan internasional dan ekonomi serta kelautan yang serba baru,” kata Jusman.

Inisiatif “One Belt and One Road” juga memasukan di dalamnya ide mengenai “maritime silk Road”, sehingga bukanlah hanya sebagai pembentukan mekanisme baru, tetapi ide dan inisiatif mengenai pembangunan yang hubungan bilateral dan multilateral antara Cina dengan negara-negara lainnya yang relevan.

Dalam paparan yang dihadiri sekitar seratus mahasiswa itu, Jusman menyebutkan sejarah Indonesia yang juga besar dalam hal kekuatan laut, mulai dari jaman kerajaan maritime hingga petualangn para pelaut Indonesia yang mencapai Afrika Selatan. Hal itu diperkuat lagi dengan pengakuan internasional atas hukum laut Idonesia yang dikenal sebagai Deklerasi Juanda tahun 1957 yang menjadikan wilayah laut Indonesia sebagai satu kesatuan perairan nasional, sebagai pemisah tetapi sebagai pemersatu.

“Sebagai negara kepulauan Deklarasi Juanda merupakan kekuatan besar bagi Indonesia dalam memengaruhi tatanan kehidupan internasional. Selain menambah wilayah hukum nasional, juga menjadi kekuatan untuk kembali membangun kejayaan di laut, mengingat multiplyer effect yang dihasilkannya amat luar biasa bagi masa depan Indonesia,” urainya.

Untuk memastikan kerja sama yang efektif di masa depan antara dua negara, perlu dilakukan dialog yang intens dan setara untuk kepentingan Bersama. Baik Preisden Jokowi dan Presiden Xi Jinping sama-sama menekankan hubungan kerjasama yang setara. Tanpa kesetaraan seluruh kerjasama internasional tidak akan terlaksana dengan baik.

Inisatif One Belt and One Road serta Poros Maritim bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kerjasama yang didasarkan atas hubungan persahabatan antara Cina dan Indonesia. Hal itu tidak saja meningkatkan kesejahteraan kawasan tetapi juga akan meningkatkan taraf hidup masyarakat, stabilitas dan keamanan kawasan dan memberikan sumbangsih terhadap perdamaian dunia.

“Secara historis Indonesia dan Cina telah membangun persahabatannya di lautan. Dengan adanya kebijakan Poros Maritim dari Presiden Jokowi dan One Belt One Road dari Presiden China Xi Jinping maka kedua negara masuk dalam perspektif baru yang perlu ditindaklajuti dengan seksama,” tutup Jusman. (omy)

loading...