Angkasa Pura 2

Komut Garuda Jusman Diberi Gelar Professor Emeritus Keuangan

Figur KokpitKamis, 22 Maret 2018
DSCF1938

TIONGKOK (BeritaTrans.com) – Dunia Pendidikan Tiongkok kembali memberikan penghargaan akademik tertinggi. Kali ini diberikan kepada Komisaris Utama Garuda Indonesia Jusman Syafii Djamal, sebagai Professor Emeritus Keuangan, usai memberikan pidato tentang pentingnya masa depan Indonesia dan Tiongkok memerhatikan secara serius kebijakan pembangunan sektor maritime melalui insiatif yang disebutnya sebagai Jalur Sutera Abad 21.

Penganugerahan gelar berlangsung di aula Guangdong University of Finance, Guangzhou, disampaikan oleh Rektor Prof. Yong Heming disaksikan Direktur  Kerja sama Internasional Prof. Liu Peifu, dan pimpinan universitas lainnya serta sekitar seratus mahasiswa kampus ternama di bidang keuangan, Selasa (20/3/2018) setempat.

Rektor Yon Heming dalam sambutannya mengatakan, pemberian gelar ini merupakan penghormatan kepada Jusman atas pemikirannya dalam membantu memperkenalkan konsep stabilisasi situasi krisis keuangan Indonesia dengan memakai pendekatan stabilisasi aerodinamika pesawat terbang.

“Sumbangan pemikirannya penting dalam mempelajari dinamika keuangan internasional dan lebih dariitu adalah terbangunnya relasi yang kuat bagi kedua negara, terutama di bidang pendidikan keuangan,” kata Rektor yang memimpin kampus dengan 1200 staf pengajar dan 23.000 mahasiwa dalam dan luar negeri itu.

Saat krisis keuangan melanda Indonesia tahun 1997 – 1998, pemerintah memperkenalkan Teori Zig-Zag sebagai salah satu upaya menstabilkan mata uang rupiah yang merosot hebat. Jusman yang menjabat sebagai Direktur Sistem Senjata dan Sistem Antariksa PT IPTN diminta Presiden BJ Habibie uutk ikut mencari solusi dari persoalan moneter itu.

Dengan latar belakang insinyur penerbangan, Jusman menyarankan pendekatan model matematika matrik koefisien pengaruh “aeroelastic” terhadap struktur pesawat akibat turbulensi hingga menggunakan pendekatan instability dan maneuverability untuk pada pesawat tempur F-16, mengingat pesawat tempur memang dirancang untuk kondisi tidak stabil.

Sebelumnya mantan menteri perhubungan itu juga pernah menerima gelar professor kehormatan dari Universitas Sains dan Teknologi Zhejiang. Gelar tersebut diberikan atas sumbangsihnya membangun kerjasama riset dan teknologi kedua negara. (omy)