Angkasa Pura 2

Noor Faridah, Kartini Zaman Now Yang Ingin Jadi Nakhoda di Tangker Pertamina

Dermaga Energi SDMSelasa, 10 April 2018
IMG-20180409-WA0025

IMG-20180409-WA0026

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Perjuangan RA. Kartini mengenai emansipasi wanita di Indonesia sudah bisa kita rasakan saat ini di lndonesia. Sebagian bidang sudah mengakui bahwa perempuan bisa ikut andil seperti bidang pelayaran sebagai pelaut perempuan misalnya. Kini, makin banyak perwira pelaut di atas kapal di dunia.

Demikian disampaikan Noor Faridah, Mualim 4 di salah satu kapal tanker PT Pertamina dalam perbincangan dengan BeritaTrans.com di Jakarta, Minggu (8/4/2018). “Jika Allah mengizinkan, saya nanti juga ingin berlayar bahkan sampai menjadi nakhoda,” kata dia.

Di Indonesia, lanjut dia, pelaut perempuan di perusahaan tertentu, misalnya PT Pertamina. Padahal, banyak persahaan pelaut di Tanah Air. Harus diakui, bahwa potensi pelaut perempuan untuk maju dan sukses di karier sama. Mereka bisa berarier sampai ke jenjang perwira bahkan nakhoda.

Meski diakui, kata dia, perusahaan pelayaran yang menerima pelaut perempuan masih sedikit. Saat ini, hanya perusahaan tertentu yang menerima pelaut perempuan baik di Indonesia atau dunia.

“Maka dari, itu para pelaut perempuan masih perlu untuk memperjuangkan emansipasi wanita khususnya di dunia maritim,” kata dara cantik kelahirsn Kudus, Jawa Tengah 27 Agustus 1992 itu.

Dikatakan, dia resmi bergabung di Pertamina sejak tanggal 2 Januari 2017. Memang masih “anak bawang” tapi kini sudah dipercaya menjabat sebagai Mualim 4 di MT Pertamina Gas I.

Tugas Mualim 4 itu, lanjutnya antara lain adalah melakukan Dinas Jaga saat kapal berlayar, berlabuh dan bongkar muat muatan. Selain itu bertugas untuk menyiapkan dokument kapal untuk clearance kapal tiba dan kapal berangkat dari pelabuhan,” jelas Noor.

IMG-20180409-WA0059

Selain itu juga membantu Mualim 3 dalam perawatan alat-alat keselamatan di atas kapal baik di kapal-kapal asing atau dimestik. “Selama ini, masih berlayar di dalam negeri,” papar Noor, alumni PIP Semarang Angkatan 47 tersebut.

Namun kapal-kapal Pertamina berlayar hampir di seluruh Indonesia, terutama daerah operasi Pertamina serta Depo Pertamina dan Kilang BBM milik BUMN migas itu. Mereka tersebar mulai dari Kilang Pangkalan Susu di Medan sampai Kilang Kasim, Sorong serta proyek pengeboran Pertamina di kepas pantai sering dikunjungi kapal-kapal Pertamina.

Pengalaman sampai di-bully atau bahkan dilecehkan selama kerja di kapal, menurut dara cantik ini, belum dan semoga tidak pernah ada. “Selama menjadi pelaut perempuan alhamdulillah tidak pernah terjadi. Kita bekerja di atas kapal dengan profesional, sesuai tupoksi masing-masing,” papar Noor.

Dia menambahkan, sebebarnya pekerjaan di kapal itu tidak ada yang berat, karena ada tingkatannya masing-masing. Ada pekerjaan yang bisa dilakukan sendirian dan ada juga pekerjaan yang dilakukan bersama-sama.

IMG-20180409-WA0027

Antara Nakhoda dan Kodrat Wanita

Setiap pelaut, khususnya dari deck, pasti ada cita-cita bisa sampai menjadi nakhoda atau kapten kapal. “Saya pun begitu,” cetus Noor.

Suka duka hidup dan bekerja di atas kapal tentu ada bagi setiap diri pelaut. Sebagai ABK di kapal tanker, menurut Noor pengalaman itu ada saat pengisian minyak mentah di tengah laut.

“Itu terjadi saat awal-awal bekerja di kapal Pertamina dan harus mengambil minyak mentah di pengeboran di tengah laut untuk. Selanjutnya minyak dibawah ke Kilang Minyak untuk diolah menjadi produk BBM,” cetus Noor.

Namun begitu, terang dia, juga ingat kodratnya sebagai perempuan. Peluang dan kesempatan menjadi nakhoda untuk perwira deck atau KKM (Kepala Kamar mesin) untuk perwira mesin selalu begitu. “Jika nanti sudah berkeluarga dan memiliki anak, kondisinya bisa berubah,” urai Noor.

Menurut saya, untuk tetap melanjutkan karier di kapal sampai menjadi nakhoda perempuan itu membutuhkan dukungan keluarga. “Jika diizinkan dan didukung keluarga terutama suami tentu bisa. Jika mereka mengizinkan tetap berlayar, akan tetap berlayar sampai menjadi nakhoda,” terang Noor.

Kendati begitu, tambah dia, jika nanti tidak sampai menjadi nakhoda itu masalah lain. Yang pasti, “saya akan melanjutkan karier saya sebagai pekerja kantor di bidang pelayaran di Indonesia atau dunia,” tegas Noor.(helmi)

loading...