Angkasa Pura 2

Harga BBM Tak Naik, Puskepi: Pemeritah Pro Rakyat ?

Energi KoridorKamis, 12 April 2018
Sofyano Zakaria (SZ)

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Harga minyak dunia sudah naik diangka US$64 Dollar per barel. Dengan begitu, maka harga minyak mentah per liternya mencapai kisaran Rp5.515 per liter.

Tetapi ternyata harga produk BBM solar di Indonesia, Pemerintah tetap bertahan tak naik dengan menjual solar subsidi sebesar Rp5.150 per liter.

Fenomena tersebut, menurut Direktur Puskepi Sofyano Zakaria, bisa merupakan pertanda bahwa Pemerintah saat ini peduli terhadap rakyatnya khususnya masyarakat pengguna BBM solar. Benarkah itu yang terjadi ?

Demikian pula dengan harga jual Premium non subsidi yang menurut perhitungan Puskepi, harga keekonomian atau harga jualnya harusnya ada pada kisaran Rp8.000/liter. “Namun Pemerintah menugaskan Pertamina untuk menjualnya dengan harga hanya Rp6.550 per liter,” kata Sofyano saat dikonfirmasi BeritaTrans.com, Kamis (12/4/2018).

Disisi lain, lanjut Sofyano, Pertamina sebagai BUMN yang ditugaskan Pemerintah menyediakan dan menjual BBM solar dengan harga yang sudah lama ditetapkan hanya Sebesar Rp5.150 per liter. Untuk harga BBM premium, Pertamina juga tetap menjual dengan harga Rp6.550 per liter.

Implikasinya, pasti akan bermasalah besar dengan keuangan Pertamina, sebagai BUMN. Masalah ini seharusnya ini jadi perhatian khusus dari Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Rugi Rp38 Triliun

Sofyano yang pengamat energi tersebut menambahkan, jika harga BBM solar subsidi dan harga premium non subsidi tidak dinaikan dan harga minyak tetap diangka rata rata US$60 sampai dengan US$ 65 per barl, maka Pertamina di tahun 2018 akan mensubsidi solar dan premium sekitar Rp38 Triliun.

“Artinya , jika di sektor hulu dan pada penjualan produk produk lainnya Pertamina tidak berhasil menghasilkan laba minimal Rp40T maka Pertamina sebagai perusahaan akan mengalami kerugian,” papar Sofyano.

Jika kondisi itu dibiarkan terus terjadi, menurut Sofyano, maka akan merupakan rapor terburuk bagi Pemerintah yang berkuasa saat ini. “Kerugian itu akan menjadi hal yang pertama sejak pemerintahan Orde Baru”,lanjut Sofyano.

Sofyano menambahkan, “subsidi” yang diberikan Pertamina kepada masyarakat pengguna BBM bisa dipahami bukan sebagai kerugian Pertamina tetapi sebagai kehilangan kesempatan memperoleh keuntungan.

Namun, ini perlu diikuti dengan tetap terbuktinya Pertamina membukukan laba pada akhir tahun 2018 nanti. “Jika ternyata secara umum nanti Pertamina mengalami kerugian maka kerugian di sektor penjualan solar dan premium bahkan juga pertalite tidak bisa dinyatakan sebagai opportunity loss,” tandas Sofyano.(helmi)

loading...