Angkasa Pura 2

Ifma 2016: Kualitas Pelaut Wanita Indonesia Lebih Baik dari Negara Lain

DermagaSabtu, 14 April 2018
IMG_20180414_201727

JAKARTA (beritatrans.com) – Indonesia tidak kekurangan para pelaut wanita. Hingga saat ini jumlah pelaut wanita Indonesia telah mencapai 8.141 orang. Kualitasnya juga lebih baik dari para pelaut wanita negara lain.

Demikian disampaikan Ketua Umum Organisasi Pelaut Wanita Indonesia atau Indonesian Female Mariner 2016 (Ifma 2016) Capt. Suarniati, MA., M.Mar. di Jakarta, Sabtu (14/4/2018).

Pernyataan tersebut sebagai tanggapan atas pernyataan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi di sebuah media online yang mengatakan bahwa peluang kerja bagi para pelaut wanita Indonesia masih kecil.

“Mungkin banyak pihak yang belum tahu, bahwa pertumbuhan jumlah pelaut wanita Indonesia saat ini semakin besar. Data per 15 Agustus 2017 jumlah pelaut wanita dalam berbagai jabatan dan tingkat Ijazah, aktif dan non aktif berlayar sebanyak 8.141 pelaut,” kata Suarniati.

Data jumlah pelaut wanita tersebut menurutnya diambil dari data base Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan.

Menurut Suarniati, ketangguhan para pelaut wanita Indonesia juga telah teruji. Bahkan Indonesia sejak lama telah memiliki pelaut wanita andal yaitu Laksamana Malahayati.

“Malahayati seorang pejuang wanita dan mendapatkan julukan laksamana wanita pertama di dunia yang memimpin 2000 pasukan inong balee (janda) Aceh pada era perjuangan melawan penjajah dahulu,” katanya.

Indonesia juga memiliki nakhoda wanita pertama yaitu DR. Capt. E Kartini., MM., M.Mar. yang saat ini menjadi Ketua Dewan Pengawas Ifma 2016.

“Di Ifma 2016 juga berkumpul para pelaut wanita yang bahkan memiliki kemampuan melebihi pelaut laki-laki. Di Ifma 2016 ada nakhoda wanita pertama di benua Amerika. Kemudian ada nakhoda wanita pertama di kapa-kapal off-shore, bahkan AHTS. Ada juga Master Mariner Engineer wanita pertama dalam dunia pelayaran, dan masih banyak yang lain,” tuturnya.

Banyak Ditolak Perusahaan Pelayaran
Ketangguhan para pelaut wanita Indonesia rupanya masih belum mendapat perhatian yang baik dari para pelaku usaha pelayaran. Bahkan banyak perusahaan pelayaran yang menolak pelaut wanita bekerja di kapal.

Padahal Direktorat Jenderal Perhubungan Laut telah lama mengeluarkan Surat Edaran Dirjen Hubla No. Um.003/80/9/DJPL-1 Tentang Pemenuhan/Pemberian Hak-hak Pelaut Perempuan. Kemudian ditindaklanjuti dengan Surat Edaran Ditkape-Hubla No. UM.002/89/3/DK-17 Tentang Pemenuhan/Pemberian Hak-hak Pelaut Perempuan.

“Kenyataan di lapangan, meskipun sudah ada surat edaran tersebut, tetapi masih sangat banyak perusahaan pelayaran yang melakukan penolakan alias diskriminasi terselubung terhadap pelaut wanita dengan alasan tekhis yang menurut kami, sangatlah tidak masuk akal,” kata Suarniati.

Suarniati mengaku, surat edaran tersebut keluar setelah Ifma 2016 melakukan audiensi dengan berbagai kementerian dan institusi terkait seperti Kementerian Tenaga Kerja, Kementerian Pemberdayaan Perempuan, Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Perhubungan, Kesatuan Pelaut Indonesia, Mahkamah Pelayaran, Indonesian National Shipowners Association (INSA).

Suarniati berani menantang siapa pun, termasuk perusahaan pelayaran, memberikan sebuah kapal dengan ukuran paling besar sekalipun untuk diawaki seluruhnya oleh pelaut wanita.

“Kami akan membuktikan profesionalitas kerja, kredibilatas dan loyalitas terhadap profesi sama hebatnya dengan pelaut laki-laki. Bahkan kami akan menjadikan kapal yang lebih baik dari kapal lain, baik dari sisi perawatan maupun dari sisi operasionalnya,” kata Suarniati.

Ia berharap, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mau menerima audiensi Ifma 2016 untuk mengetahui lebih lebih jauh tentang kemampuan para pelaut wanita Indonesia.

“Kami juga berharap Presiden Joko Widodo bersedia ditemui Ifma 2016 agar program poros maritim dunia dan Tol Laut tidak hanya jadi slogan dan diskriminatif jender,” tutup Suarniati. (aliy)