Angkasa Pura 2

Bangun BRT dan Revitalisasi Angkutan Umum Idealnya Berdayakan Operator Yang Ada

Koridor SDMSelasa, 17 April 2018
images-3

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Pemerintah pusat atau Pemda harus melibatkan operator angkutan darat eksisting untuk mengembangkan bus rapit transit (BRT), bahkan untuk revitalisasi  angkutan umum  di Tanah Air.

“Operator  eksis sering tak dilibatkan,  sehingga memicu timbulnya masalah baru. Bukan tidak  mungkin mereka justru akan menghambat opeasional angkutan umum baru yang akan atau tengah dibangun,”  kata Kepala Lab  Transportasi Unika Soegijopranoto Semarang Djoko Setijowarno  menjawab BeritaTrans.com di Jakata, Selasa (17/4/2018).

Selama ini, mereka mengoperasikan angkutan umum kecil seperti angkot atau kendaraan bus kecil bahkan  Isuzu  ELF dan sejenisnya.

Dikatakan, kasus mogol alsi angkutan umum di  Cielungsi kemarin,  Senin (26/4/2018) bersamaan dengan uji coba pembatasan kendaraan ganjil genap dan diikuti penambahan  angkutan umum termasuk dari daerah Cileungsi.

Kasus tersebut,  menurut Djoko layak diduga karena mereka tak dilibatkan dalam penambahan angkutan umum yang bersinggungan dengan trayek mereka layani.

“Kasus itu tak akan terjadi jika mereka (pengemudi angkutan umum) lama diajak dan dilibatkan,” kilah akademisi senior  itu.

Ubah Nasibnya

Idelanya, menurut Djoko, mereka harus  dilatih menjadi pengemudi bus. Tugas pemerintah untuk mengajak mereka mengubah nasibnya. Dengan begitu tak menghambat program revitalisasi dan pemberdayaan angkutan umum di satu wilayah.

“Revitalisasi angkutan umum juga untuk membina dan menyejahterakan operator lama. Bukan membinasakan,” jelas Djoko.

Sayangnya, menurut Djoko, program pembinaan pada  angkutan umum yang sudah exist itu tidak ada. “Akhirnya yang kuat berkuasa yang lemah tak kuasa,” kilah dia.(helmi)

Foto: aksi mogok angkutan umum Cileungsi/ ist

loading...