Angkasa Pura 2

Ribuan Petambak Dipasena Akhirnya Terima Sertifikat Hak Milik

Kelautan & PerikananRabu, 18 April 2018
IMG-20180418-WA0007

IMG-20180418-WA0006

TULANG BAWANG (beritatrans.com) – Ribuan petambak udang Bumi Dipasena memadati pelataran Kantor Sekretariat P3UW di Kecamatan Rawajitu Timur Kabupaten Tulang Bawang Lampung, untuk menghadiri acara seremonial penyerahan Sertifikat Hak Milik atas rumah dan tambak udang yang mereka miliki.

Nampak suka cita dan perasaan haru menyelimuti wajah para petambak dalam acara tersebut karna sejak tahun 1980-an baru hari ini mereka melihat wujud asli dari sertifikat Hak Milik mereka masing – masing yang selama ini berada ditangan pihak perbankan sebagai jaminan terkait dengan kerjasama kemitraan inti – Plasma yang dulu pernah mereka jalani .

Acara serah terima SHM dari pihak perusahaan PT Centra Proteina (CP) Prima ke pada para Petambak Bumi Dipasena ini merupakan salah satu agenda lanjutan dari hasil kesepakatan bersama antara Pihak CP Prima dengan Petambak Dipasena yang diadakan pada tanggal 7 oktober 2017 lalu.

Mekanisme penyerahan sertifikat dengan total jumlah 6.500 sertifikat se-Bumi Dipasena dibuat dalam beberapa tahapan sambil menyelesaikan proses perubahan nama dan hal administratif lainnya.

Dalam acara yang dihadiri oleh pihak PT CP Prima , Bank BNI, notaris, pengurus P3UW, muspika kecamatan rawajitu timur dan tokoh masyarakat.

Ketua P3UW Lampung Nafian Faiz menyampaikan bahwa penyerahan sertifikat ini adalah momentum kemerdekaan berekonomi bagi petambak Dipasena .

“Sertifikat yang kita terima ini tidak ada artinya apabila petambak tidak dapat berproduksi dengan baik dan berkelanjutan, sistem usaha yang digunakan haruslah bernilai-nilai sosial dan mensejahterakan petambak,” ujar Nafian

Nafian pun menambahkan bahwa saat ini tantangan terbesar produksi udang di Dipasena justru datang dari luar di antaranya infrastruktur jalan buruk, listrik yang belum masuk dan minimnya upaya penanganan permasalahan penyakit yang melanda usaha budidaya udang hampir di seluruh Indonesia.

Penuh Haru
Cerita perjuangan petambak dipasena dalam meraih mimpi kesejahteraan merupakan bagian dari sejarah pergerakan rakyat Indonesia sejak tahun 1980-an, konsep kemitraan yang berkali kali dicoba terapkan di dipasena selalu berakhir dengan konflik horizontal antara pihak petambak dan pihak perusahaan.

Persoalan yang memicu runtuhnya kemitraan yang pernah ada pun tak pernah lepas dari masalah sertifikat yang dijadikan agunan oleh pihak perusahaan sebagai avalis (penjamin kredit) dalam kerjasama kemitraan inti plasma tempo dulu, bahkan sertifikat hak milik petambak ini pun pernah menjadi 6 tuntutan petambak Dipasena yang melegenda.

Dalam acara penyerahan sertifikat yang hari ini dilakukan, sebagian besar petambak Dipasena Nampak terharu atas apa yang mereka saksikan hari ini. Perjuangan panjang mereka atas hak-hak mereka sebagai petambak dan bangsa yang merdeka satu persatu terjawab dengan pasti.

Mang Hansun, salah satu petambak yang menerima sertifikat pada tahap pertama ini menyampaikan bahwa saat ini hampir semua hal ysng di perjuangkan oleh petambak telah membuah kan hasil jelas, mulai dari pemilahan asset, pemutihan hutang piutang , hingga pembagian sertifikat milik petambak.

“Saya terharu , sejak tahun 1989 baru hari ini saya memegang sertifikat asli atas lahan tambak dan rumah tinggal yang selama ini saya tempati untuk usaha,” ujar Hansun dengan mata berbinar.

Hansun pun menambahkan bahwa hari ini dirinya tinggal fokus budidaya saja karna bisa dibilang semua hal untuk mendukung usaha budidaya tambaknya sudah ia miliki , termasuk modal dan sistem usaha yang baiK

Win – Win Solution
Penyerahan sertifikat yang merupakan bagian dari kesepakatan kerja antara petambak Dipasena dengan PT CP Prima. Kesepakatan ini merupakan sebuah peristiwa penting dan juga sejarah baru tentang penyelesaian konflik agraria yang pernah terjadi di Indonesia.

Sejak tahun 2011 kemitraan yang ada antara pihak petambak Dipasena dengan PT CP Prima secara defacto telah berakhir, sulitnya menemukan pola kerja sama yang ideal memaksa kedua belah pihak harus mengakhiri kerjasama tersebut dan memilih untuk menggunakan pola free market seperti yang saat ini dijalankan .

Directur Utama PT CP Prima Arman Zakaria Diah menyampaikan bahwa penyerahan sertifikat ini merupakan solusi terbaik untuk kedua belah pihak.

“Saat ini yang dibutuhkan oleh kedua belah pihak adalah dukungan infrastruktur seperti jalan dan listrik supaya hasil produksi bisa lebih ditingkatkan dan petambak bisa lebih sejahtera, “ ujar arman.

Arman pun menambahkan bahwa saat ini perusahaan memiliki dukungan produk berkualitas dan tim teknis yang baik sementara petambak Dipasena memiliki permodalan kolektif yang kuat dan sistem usaha yang luar biasa jadi tinggal dukungan infrastrukturnya saja. (aliy)