Angkasa Pura 2

YLKI: Jangan Paksakan Bandara Kertajati Sebagai Embarkasi Haji dan Umrah Tahun 2018

Bandara DestinasiRabu, 25 April 2018
tmp_10127-bandara-kertajati-553x324-1470450513

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Demi alasan keselamaan, keamanan dan kenyamanan calon jemaah haji serta keselamatan penerbangan secara umum, Pemerintah jangan memaksakan diri menjadikan Bandara Kertajati, Majalengka, Jawa Barat sebagai embarkasi Haji dan Umrah pada tahun 2018 ini.

“Jangan hanya karena ingin pencitraan, kemudian aspek keselamatan penerbangan diabaikan,” kata Ketua YLKI Tulus Abadi di Jakarta, kemarin,

Pihak maskapai, lanjutnya, jangan dipaksa dengan rekayasa teknis, agar penerbangan bisa transit dulu di Bandara Soekarno Hatta atau Bandara Kualanamu, untuk mengisi bahan bakar. Namun, itu hal yang tidak efisien baik dari sisi biaya dan waktu penerbangan.

Jika Kertajati ingin menjadi embarkasi haji, maka Pemerintah dalam hal ini, Kemenhub harus memperpanjang runway terlebih dulu, minimal menjadi 3.000 meter. Tidak ada kompromi untuk aspek kenyamanan, keamanan dan keselamatan penerbangan.

Saa dikonfirmasi BeritaTrans,com, Rabu (25/4/2018), Tulus menambahkan, saat ini pembangunan fisik Bandara Kertajati telah mendekati 100%, dan rencananya akan dioperasikan pada Mei 2018. “YLKI juga pernah diundang managemen bandara Kertajati untuk melihat “progress report” pembangunannya, yang waktu itu baru mencapai 84 persen (Februari 2018),” papar dia.

Infrastruktur Pendukung Belum Siap

Secara umum fasilitas bandara (terminal) cukup memadai. Siap untuk menampung penerbangan domestik pada mudik Lebaran. Bahkan untuk penerbangan internasional sekalipun. “Tetapi banyak infrastruktur penunjang yang belum siap, khususnya untuk keperluan pariwisata. Misalnya di Majalengka belum ada fasilitas hotel berbintang,” terang Tulus.

Selain itu, yang lebih utama adalah target Bandara Kertajati sebagai embarkasi haji dan umrah. Sehingga ada akses penerbangan langsung dari Kertajati menuju Jeddah, Arab Saudi.

“Jika dilihat jumlah/prosentase calon jemaah haji/umrah target tersebut cukup rasional. Sebab calon jemaah haji/umrah Provinsi Jabar adalah tertinggi di Indonesia, yakni berkisar 20 persenan dari total calon jemaah haji. Wajar jika Prov. Jabar ingin punya embarkasi sendiri,” urai Tulus

Namun, dia berkilah, jika melihat panjang runway Bandara Kertajati, target menjadikan Bandara Kertajati sebagai embarkasi haji harus dikaji ulang. Mengingat panjang runwaynya hanya mencapai 2.500 meter.
“Sedangkan untuk mengangkut calon jemaah haji diperlukan pesawat berbadan lebar, seperti Airbus A330 atau Boeing 777, sehingga panjang runway yang diperlukan minimal 3.000 meter. Oleh karena itu, jika bekum semuanya siap, jangan paksakan Bandara Kertajati menjadi embarkasi Haji dan Umrah tahun 2018 ini,” tandas Tulus.(helmi)

loading...