Angkasa Pura 2

Antisipasi Gangguan Balon Udara, OBU Surabaya Sosialisasi Keselamatan Penerbangan

Bandara KokpitSenin, 30 April 2018
IMG-20180430-WA0000

IMG-20180430-WA0001

PONOROGO (BeritaTrans.com) – Antisipasi terjadinya gangguan pelepasan balon udara yang mungkin terjadi pada penerbangan, Otoritas Bandar Udara (OBU) wilayah III Surabaya, sosialisasi keselamatan di Ponorogo, Ahad (29/4/2018).

Saat ini, di berbagai daerah yang menerbangkan balon masih banyak dengan berbagai alasan budaya. Masyarakat memaknai bahwa naiknya balon sama dengan naiknya kebaikan. Sedangkan hilangnya balon sama dengan hilangnya keburukan.  Acara menaikkan balon juga sebagai ajang silaturahmi antar kampung/desa.

Masyarakat Ponorogo bersama masyarakat lain di wilayah Wonosobo, Pekalongan, Magelang, Madiun, Banyuwangi, Jombang, Trenggalek dan lainnya mempunyai tradisi menaikkan balon udara pada Hari Raya Idul Fitri.

“Tujuan sosialisasi ini untuk memberikan pemahaman kepada instansi terkait dan segenap unsur masyarakat tentang dampak penerbangan balon udara tanpa awak terhadap kegiatan penerbangan pesawat udara serta peraturan yang mengaturnya,” jelas Wakapolres Ponorogo Kompol Suharsono saat membuka acara.

Pihaknya memberikan apresiasi tinggi  adanya acara sosialisasi balon udara ini. Dengan demikian masyarakat semakin tahu bahayanya menerbangkan balon udara. Dan juga memahami bahwa penerbangan balon itu bisa dipidana.

“Sosialisasi ini sebagai bentuk kepedulian masyarakat Ponorogo terhadap keselamatan penebangan. Saya berharap peserta yang ikut sosialisasi juga menyebarluaskannya ke saudara dan masyarakat lainnya. Nantinya pelepasan balon udara akan dikendalikan dan dibuat festival yang dilombakan. Semoga hal ini didengar oleh seluruh masyarakat Indonesia,” katanya.

Sementara itu Kabid Pelayanan dan Pengoperasian Bandar Udara KOBU Wilayah III, Surabaya Hasanuddin menyatakan bahwa tradisi pelepasan balon udara itu tidak akan dilarang. Namun akan dikendalikan sehingga tidak mengganggu penerbangan. Misalnya saja balon nantinya tidak akan dilepas bebas, tapi akan diberi tali dan ditambatkan hingga ketinggian tertentu yang tidak mengganggu penerbangan.

“Sebagai tradisi tentunya kegiatan tersebut tidak dilarang. Tetapi tradisi seharusnya  juga jangan merugikan orang lain. Ke depannya  harus ada kreatifitas  dalam soal pembuatan dan pelepasan balon udara ini sehingga tidak memberikan efek negatif pada orang lain,” ujarnya.

Menurut Hasanuddin, ada aturan yang mengatur penerbangan balon udara yaitu Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil (PKPS) 101 di mana setiap penerbangan balon udara harus mendapat ijin Kantor Otoritas Bandar Udara dan Airnav terdekat. Ada sanksi pidana jika ada penerbangan balon udara yang dapat mengganggu keselamatan penerbangan.

“Karakteristik balon udara yang diterbangkan masyarakat di antaranya merupakan balon udara bebas tanpa awak yang tidak bisa dikendalikan. Besar balon 5 – 10 meter bahkan lebih. Materialnya dari plastik, kertas minyak, terkadang dilengkapi dengan tungku yang terbuat dari kaleng dan ada pula yang dilengkapi petasan,” tutur Hasan.

Balon ini mempunyai durasi  terbang  sampai 10 Jam. Diluncurkan pagi hari pukul 05.00 – 08.00 WIB dan bisa sampai ketinggian Flight Level 350. Peluncurannya tanpa izin sehingga keberadaanya tidak diketahui dan tidak terdeteksi radar ATC. (omy)

loading...