Angkasa Pura 2

NPL 0.4%, AMITRA: Pasar Pembiayaan Syariah di Indonesia Menjanjikan

IMG-20180512-WA0062

BANDUNG (BeritaTrans.com) – Marketing Head AMITRA  Heru Pamungkas mengaku optimis  pangsa pasar pembiayaan syariah khususnya Haji dan Umrah di Indonesia masih menjanjikan.

Indonesia adalah negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Dan animo masyarakat untuk menunaikan ibadah dan rukun Islam kelima itu memang besar.

“Dalam sebulan, rata-rata pembiayaan Haji dan Umrah di AMITRA mencapai Rp28 miliar sampai Rp30 miliar. Tenor pembiayaan rata-rata 5 tahun,” kata Heru pada acara Blogger dan Jurnalis Gathering di Bandung, Sabtu (12/5/2018).

Menurutnya, dari jumlah tersebut umat Islam  dari dua daerah yang tercatat paling tinggi menggunakan jasa pembiayaan  syariah AMITRA, yaitu Jawa Timur dan Sumatera Barat.

“Kedua daerah itu paling banyak warganya menunaikan Haji dan Umrah dengan pembiayaan  dari AMITRA,”  kata Heru lagi.

Skim pembiayaan  syariah dinilai cukup ringan, tidak memberatkan nasabah dan prosesnya mudah. “Nasabah bisa memilih travel sendiri yang diyakini terbaik dan dekat dengan tempat tinggalnya,” jelas Heru saat ditanya BeritaTrans.com.

Mereka pun bisa menggunakan jasa penerbangan sesuai selera dan kemampuan kantongnya. Bisa dengan maskapai Garuda Indonesia, Saudi Arabia Airlines, Emirate Air dan lainnya.

Dengan menjadi nasabah AMITRA, mulai angsuran kedua sudah bisa berangkat menunaikan ibadah ke Tanah Suci. “AMITRA akan memberikan pinjaman pembiayaan antara Rp20 juta sampai Rp25 juta per orang,” papar Heru lagi.

Tahun 2017 lalu,  tercatat sebanyak 5.514 orang calon jamaah atau jamaah yang sudah melakukan akad melalui AMITRA.

“Prosesnya cepat dan mudah. Dan hampir semua pembiayaan  Haji dan Umrah selalu disetujui AMITRA,” tukas Heru.

Orang pergi Haji dan Umrah adalah untuk tujuan ibadah. Mereka mempunyai kesadaran tinggi untuk melunasi tanggungannya di AMITRA.

NPL Rendah

Faktanya, menurut Heru, tingkat kredit macet atau  non performing loan (NPL) dalam pembiayaan Haji dan Umrah sangat kecil atau rendah yaitu sekitar 0.4% di Indonesia. Angka itu jauh dibawah batasan OJK NPL maksimal 5%.

Jika sampai ada yang macet, aku Heru, pihaknya bertindak persuasif kalaupun mendatangi nasabah dilakukan dengan ekstra hati-hati dan sopan.

“Kalau bukan karena tak ada uang atau bangkrut, rata-rata nasabah masih mampu melunasi kewajibannya,” terang Heru.

“Skim pembiayaan syariah khususnya Haji dan Umrah sangat menjanjikan. Apalagi, tujuan utamanya ibadah, dan kesadaran nasabah memang cukup tinggi,” tandas Heru.(helmi)