Angkasa Pura 2

Mengabadikan Warna-warni Bandara dari Sudut Terbaik Bidik Widjaja Lagha

Bandara FigurSenin, 14 Mei 2018
IMG-20180514-WA0034

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Pertumbuhan penerbangan di Indonesia sangat fantastis. Setiap tahun tidak kurang dari 10 persen jumlah pertumbuhan penumpang pesawat udara.

Tak heran, bila hampir semua bandara besar di Indonesia kondisinya adalah overload karena bebannya jauh dari daya dukungnya, baik dari kapasitas penumpang maupun dari jumlah pergerakan pesawat udara.

Demikian disampaikan Pengamat Penerbangan yang juga anggota Ombudsman Republik Indonesia Alvien Lie pada acara “Peluncuran dan Diskusi Buku Membidik dari Kokpit” karya Widjaja Lagha di Gramedia Matraman, Jakarta, Senin (14/5/2018).

Untuk mengatasi hal tersebut, dalam beberapa tahun terakhir ini pemerintah aktif meningkatkan kapasitas bandara dengan membangun landasan pacu baru atau memperpanjang landasan pacu lama dan juga membangun gedung-gedung terminal baru.

Data dari Direktorat Bandar Udara Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, saat ini ada 265 bandara yang teregistrasi serta 56 bandara yang baru selesai dibangun dan sedang dibangun. Total 326 bandara yang sudah terpetakan pemerintah.

Namun masih banyak bandara yang dikelola dan dioperasikan secara khusus, yang belum masuk dalam daftar tersebut. Jumlah keseluruhannya diperkirakan lebih dari 500 bandara di Indonesia.

“Widjaja selaku pejabat di Ditjen Hubud terlibat langsung dalam mengawal pembangunan-pembangunan bandara tersebut. Dalam kesempatan tugas itulah, ia mendapatkan peluang-peluang bagus untuk mengabadikan proses pembangunan tersebut dan saya sangat apresiasi,” ujarnya.

Widjaja dinilai Alvin, sangat pasioned dan gemar memotret, sehingga dalam manjalankan tugas sekaligus juga memanfaatkannya untuk memotret. Mengambil gambar-gambar, mengambil foto-foto, yang tidak semua orang dapat mengambilnya dari sudut-sudut tersebut, baik itu dari darat maupun dari udara.

Pengalaman Widjaja memotret juga tampak bukan hanya dari sudut-sudut pengambilan yang bagus, tapi juga teknik pemotretatnya dapat mengatasi hambatan-hambatan, seperti pencahayaan dan kabut yang biasanya dihadapi oleh seorang fotografer ketika memotret dari udara.

“Secara umum, saya melihat foto-foto Pak Widjaja sangat patut untuk dibagikan kepada penggemar fotografi dan penerbangan untuk menjadi rujukan. Kebetulan Wijaja dan saya sama-sama pengguna kamera, sehingga saya beruntung mendapat kesempatan diskusi dengannya tentang teknik-teknik fotografi dari udara,” tutur Alvin.

Widjaja Lagha mengakui, dirinya bukan fotografer profesional. Namun ia banyak belajar tentang fotografi dari buku-buku, dengan bertanya pada ahlinya, dan yang terpenting adalah pengalamannya di lapangan ketika memotret. Hasilnya memang tidak mengecewakan. Bahkan yang membanggakannya, puluhan ribu foto yang dikumpulkannya setiap kali ia memotret sudah mengisi komputer dan harddisk-nya.

Lebih membanggakannya lagi, sebagian besar dari foto-foto itu adalah foto-foto bandar udara dan pesawat terbang dengan logo dan livery berbagai maskapai penerbangan. Hebatnya, foto-foto itu kebanyakan hasil bidikannya dari kokpit dan kabin pesawat terbang. Seringkali pula ia bersiaga di ujung landasan pacu menanti momen tepat untuk memotret pesawat terbang yang akan lepas landas atau hendak mendarat.

Niat dan tekad yang kuat mendorong Widjaja untuk terus mengembangkan hobinya itu. Sekarang ia tambahkan bidikannya dengan membuat video. Kelengkapan hasil bidikannya; ada foto ada video, memberi “kekayaan” bagi karyanya.

“Saya berencana mencetak lagi buku seperti ini lagi,” kata dia.

Tak kalah hebat adalah sang penulis bukunya, Reni Rohmawati, jurnalis senior jebolan Gramedia Grup. Pengetahuannya yang luas dalam bidang aviasi menyempurnakan buku Widjaja Lagha menjadi semakin ciamik. (omy)