Angkasa Pura 2

Kasus Laka Maut Bumiayu, KNKT: Kasus Kecelakaan itu Diduga karena Overloading

Koridor SDMSenin, 21 Mei 2018
Laka Maut Bumiayu1

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menurunkan tim investiasi pada kasus kecelakaan maut di Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah yang menewaskan 13 orang.

Mereka adalah korban truk mengangkut gula pasir yang diduga rem blong dan pengemudi tak bisa mengendalikan diri di turunan Fly Over (FO) Kretek,  Brebes, Jawa Tengah.

“KNKT menurunkan tim investigasi. Kebetulan IIC (Investigator In Charge)-nya saya sendiri,” kata Inesvtigator KNKT Ahmad Wildan, ATD, MT menjawab BeritaTrans.com di Jakarta, Senin (21/5/2018).

Tim sudah bekerja di lapangan sejak Minggu (20/5/2018) malam, setelah kejadian kecelakaan maut sore harinya. “Jumlah korban sementara ini meninggal dunia (MD) 13  orang, tapi bisa bertambah,” kata Wildan lagi.

Dugaan sementara, lanjut dia, kasus kecelakaan maut itu  diduga karena overloading, sehingga saat kendaraan di turunan FO Kretek sistem rem tak bisa bekerja.

“Akhirnya truk menabrak mobil dan beberapa sepeda motor serta orang-orang yang melakukan aktivitas sore kemarin,” jelas akademisi STTD dan PKTJ Tegal itu.

Data dan analisa sementara, menurut Wildan, muatan truk 30.160 kg, berat kendaraan 8.250 kg, dengan penumpang dua (120 kg). jadi, berat total kendaraan beserta muatannya sekitar 38.500 kg.

“Saat di turunan FO Kretek fungsi rem tidak mampu menahan laju kendaraan, sehingga saat tia di pertigaan jalan lingkar yang seharusnya kendaraan bus dan truk belok kanan dia tidak mampu berbelok dan terus masuk kota,” ppar Wildan.

Saat terjadi kecelakaan,  terang Wildan, posisi tuas persnelling pada gigi 4 hal yang tidak lazim mengingat daerah itu adalah daerah padat dan saat jam 16.00 sore lalu lintas sedang padat.

“Terlihat ada upaya pengereman dari pengemudi karena hand break ditarik. Tapi itu tidak akan bisa membantu,” sebut Wildan.

Dia menambahkan, untuk sementara fungsi rem kendaraan didesain untuk JBB 24 ton, sedang eksisting sampai 38 ton. “Jadi, ada kelebihan muaan (overladang) sampai 12 ton,” tegas Wildan.(helmi)