Angkasa Pura 2

Lebih Mahal 12,8%, Pelaku Usaha Pilih Gunakan Truk Daripada KA

Emplasemen KoridorJumat, 25 Mei 2018
tmp_7842-Aktivitas-bongkar-muat-petikemas-di-Pelabuhan-Tanjung-Priok-Firmanto-Hanggoro1841390089

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Biaya angkut barang dari Surabaya ke Jakarta  menggunakan  kereta api (KA) lebih mahal 12,8% dibandingkan dengan menggunakan truk. Dampaknya, pelaku usaha  lebih memilih truk untuk mengangkut barang-barang miliknya.

“Ini anomali. Karena layaknya diangkut menggunakan KA bisa lebih murah, karena massal dalam ukuran dibawah batas beban yang diijinkan,” kata pengamat transportasi dan  mantan Kepala BPDMP  Dedi Darmawan di Jakarta, kemarin.

Berdasarkan data Supply Chain Indonesia, biaya pengiriman melalui kereta barang lebih mahal 12,8% dibandingkan dengan truk. Realisasi waktu juga lebih baik menggunakan truk.  Oleh karena itu, pengusaha enggan mengalihkan pengangkutan barang dengan menggunakan kereta api.

Selain itu, pengusaha tidak hanya mempertimbangkan biaya jasa kereta antarkota, tetapi juga bayaran pengiriman dari lokasi awal sampai tujuan akhir (end to end).

Melalui hitung-hitungan Supply Change Indonesia (SCI) pada 2016, total ongkos keseluruhan transportasi barang dengan truk dari Jakarta ke Surabaya menghabiskan dana sebesar Rp6,73 juta, sedangkan dengan menggunakan kereta api pengusaha harus mengeluarkan biaya Rp7,6 juta.

Sementara itu, Pelabuhan Tanjung Tembaga, Probolinggo, Jawa Timur yang direncanakan juga tersambung rel kereta bisa menjadi alternatif pelabuhan sekitar yang sudah padat.

KA Barang

KA Ekonomis ?

Selama ini diketahui, KA adalah  transportasi yang efisien, hemat dan relatif ramah lingkungan. Konsumsi BBM lebih hemat dan kapasitas angkutnya besar,  paling tidak dibandingkan truk.

Selain itu, menurut  Dedi,  dampak biaya yang timbul dari kerusakan jalan akibat muatan berlebih yang selalu terjadi pada angkutan truck demikian besar.

Setijadi dari SCI mengakui, yang terjadi sekarang ini memang begitu. Supply chain agak sulit dikonversi dari  multi Moda transportation, karena tidak betul betul multi moda yang seharusnya dimuali dari proses loading and unloading dihulu sampai dihilir.

“Implikasinya ada ekstra cost disana, disetiap simpul transportasi seperti pelabuhan, stasiun, terminal dan lainnya. Intinya biaya logistik di Indonesia masih mahal,” tandas  Setijadi.(helmi)

Foto: ilustrasi