Angkasa Pura 2

Terpaksa Mudik dengan Sepeda Motor, Djoko: Ingat Aturan PP No.74/2014

KoridorMinggu, 27 Mei 2018
Djoko-  Orchard

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Mudik dengan sepeda motor memang sangat tidak direkeomendasikan. Apalagi ntuk jarak jauh, bahkan antar kota antar provinsi (AKAP).

“Kalaupun nanti ada masyarakat yang terpaksa mudik dengan sepeda motor, maka perlu diatur dan diawasi ketat. Selain itu Pemerintah perlu memberikan pelayanan ekstra, agar tidak memicu kecelakaan yang lebih besar,” kata Kepala Lab Transportasi Unika Soegijopranoto Semarang Djoko Setijowarno menjawab BeritaTrans.com di Jakarta, Minggu (27/5/2018).

Menurutnya, imbauan dapat diberikan, misalnya setiap dua jam harus istirahat. Tidak boleh membawa barang berlebihan, tidak bokeh lrbih dari dua orang, dilarang bawa anak-anak.

Sudah ada ketentuan untuk membawa barang menggunakan sepeda motor. Jadi, aparat tinggala menegakkan aturan itu dengan adil dan konsisten.

“Mengangkut barang dengan sepeda motor tidak bisa sembarangan. Pasal 10 ayat 4 Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 74 Tahun 2014 tentang Angkutan Jalan, lebar barang muatan tidak boleh melebihi stang kemudi, tingginya harus kurang dari 900 mm dari atas tempat duduk dan muatan tersebut harus ditempatkan di belakang pengemudi,” jelas Djoko.

Kendati begitu, menurut Djoko, selama transportasi umum di daerah masih buruk, sulit rasanya pemerintah mengendalikan sepeda motor untuk digunakan mudik.

“Implikasinya, angka kecelakaan mudik motor masih tinggi. Tahun 2017 lalu, sekitar 70% kasus kecelakaan selama arus mudik dan balik Lebaran melibatkan seoeda motor,” kilah Djoko.

Oleh sebab itu, tambah Djoko, segeralah Pemerintah membangun transportasi umum sesuai janjinya dalam RPJMN 2015-2019.(helmi)