Angkasa Pura 2

Di Ponorogo, 70 Peserta Berlomba Terbangkan Balon Udara

Bandara KokpitKamis, 21 Juni 2018
IMG-20180621-WA0015

PONOROGO (BeritaTrans.com) – Upaya pencegahan pelepasan balon udara tanpa awak yang dapat bahayakan penerbangan terus dilakukan. Ditjen Perhubungan Udara beserta AirNav Indonesia, Pemerintah Kabupaten Ponorogo, Polres Ponorogo, dan Organisasi Kemasyarakatan GP Anshor hari ini kembali mengadakan “Festival Balon Udara Budaya 2018” di lapangan Jepun Balong, Kabupaten Ponorogo- Jawa Timur, Kamis (21/6/2018).

Acara dibuka Kepala Polres Ponorogo AKBP Radiant didampingi Kabid Angkutan Udara dan Kelaikudaraan Otoritas Bandar Udara Wil. III Surabaya Nafhan Syahroni.

Dalam sambutan Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso yang dibacakan Nafhan, disampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh tim sehingga festival balon udara tradisional ini dapat berjalan lancar dan sukses.

“Sebagaimana kita ketahui bersama, pelepasan balon udara merupakan tradisi Syawalan di beberapa kota di Pulau Jawa, seperti di Kabupaten Ponorogo ini. Namun dibalik kegiatan tersebut, terdapat potensi bahaya yang dapat mengganggu operasional penerbangan dan membahayakan keselamatan penerbangan. Berdasarkan laporan pilot yang telah disampaikan oleh Airnav Indonesia, terdapat lebih 100 laporan (periode 14-19 juni 2018) terkait adanya balon udara bebas tanpa awak yang tidak dapat dikendalikan di lintasan pesawat,” urainya.

Balon udara tersebut mampu mencapai ketinggian 38.000 kaki, dimana ketinggian tersebut merupakan ketinggian jelajah (cruising) pesawat udara, yang didalamnya terdapat rute domestik maupun rute internasional sehingga dapat membahayakan keselamatan penerbangan. Disamping itu balon udara yang diterbangkan bebas tanpa awak juga merugikan masyarakat seperti dapat mengganggu aliran listrik apabila jatuh pada Sutet.

Dia menyatakan, penyelenggaraan festival balon udara yang ditambatkan ini untuk memberikan edukasi dan contoh kepada masyarakat tentang bagaimana cara menerbangkan balon udara yang terkontrol dan tidak membahayakan keselamatan penerbangan.

Tentunya juga berpedoman kepada ketentuan perundang-undangan. Antara lain bahwa balon udara yang digunakan harus diterbangkan dengan cara ditambatkan dengan ketinggian maksimal yaitu 150 meter dan ukuran 7 x 4 meter pada saat balon menggelembung.

“Penerbangan balon udara bebas tanpa awak diluar wadah festival balon udara akan diberikan tindakan tegas dan dapat diancam hukuman pidana sesuai UU Nomor 1 tahun 2009 pasal 411 yaitu maksimal kurungan 2 tahun dan denda Ro 500 juta. Dan Peraturan Menteri Perhubungan no. PM 40 tahun 2018 tentang Penggunaan Balon Udara pada Kegiatan Budaya Masyarakat. Kecuali penerbangan balon udara tersebut telah memenuhi ketentuan perundang-undangan dan mendapatkan izin instansi terkait,” lanjutnya.

Menurut Nafhan, ajang festival balon udara di Ponorogo ini sudah dilaksanakan selama tiga kali.

“Rencananya festival ini akan dijadikan agenda tahunan, sebagai bentuk perhatian Pemerintah untuk tetap melestarikan tradisi budaya lokal dalam merayakan hari raya Idul Fitri yang aman dan selamat,” ujar Nafhan.

Selain itu penyelengaraan festival ini diharapkan dapat memberikan nilai lebih untuk masyarakat setempat. Kedepannya ajang festival ini diharapkan dapat menjadi bertaraf internasional sehingga mampu meningkatkan perekonomian daerah dan pariwisata di Ponorogo. (omy)