Angkasa Pura 2

Tenggelamnya KM Sinar Bangun, YLKI: Bukti Lalai Terhadap Keselamatan

Dermaga KoridorKamis, 21 Juni 2018
Tulus Abadi

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Kasus karamnya kapal “KM Sinar Bangun 5″ di perairan Danau Toba pada H plus 3 Lebaran, merupakan kejadian yang antiklimaks dalam pengelolaan mudik Lebaran 2018.

“Sejak awal  banyak pihak mengingatkan Pemerintah agar jangan hanya fokus pada sisi transportasi darat, tapi melalaikan  sektor penyeberangan, yang saban harinya nyaris nihil pengawasan,” kritik Ketua YLKI Tulus Abadi di Jakarta, Kamis  (21/6/2018).

Karamnya  KM Sinar Bangun 5, lanjut dia, menjadi bukti nyata bahwa Pemerintah, baik pusat dan daerah lalai terhadap keselamatan warganya. Lalai terhadap hak keselamatan konsumen yang telah membayar jasa angkutan.

“Abai terhadap aspek safety khususnya di sektor penyeberangan. Bagaimana mungkin kapal yang kapasitas muatnya hanya 40-an orang, tetapi bisa diisi sampai 200-an orang,” tanya Tulus diplomatis.

Kondisi tersebut merupakan fakta tak terbantahkan, yang secara fisik bisa terlihat dengan mata telanjang. Dalam kejadian ini tidak bisa lagi bicara manifes penumpang.

“Operator kapal tak disiplin dan diduga kuat melanggar batas muatan dan penumpang tak dilengkapi alat-alat keselamatan yang memadai,”  papar Tulus.

Kasus overload itu sangat berbahaya dan berakibat vatal. “Parahnya lagi, pelanggaran batas muatan dan aturan keselamatan itu diketahui setelah celaka dan banyak warga mengadukan kehilangan anggota keluarganya,” kilah Tulus saat dikonfirmasi BeritaTrans.com.

YLKI menyampaikan kritik keras,  terkait pelanggaran aturan keselamatan ini. Beberapa kali terjadi kecelakaan kapal laut atau angkutan perairan selalu diwarnai pelanggaran muatan.

“Bahkan, manifes penumpang dan barang yang dibawa tak ada atau sering dimanipulasi. Kasus terakhir KM Sinar Bangun 5 juga tak dilengkapi manifes yang benar,” tandas Tulus.(helmi)