Angkasa Pura 2

Ada-ada Saja, Saat Kapal Diperiksa Jaket Pelampung dalam Kotak Terkunci dengan Alasan Sering Hilang

DermagaSabtu, 23 Juni 2018
IMG-20180623-WA0011

IMG-20180623-WA0008

BALIKPAPAN (BeritaTrans.com) – Kejadian tak biasa ditemukan saat Staf Ahli Menteri Perhubungan Bidang Logistik, Multimoda, dan Keselamatan Transportasi Cris Kuntadi meninjau kapal di Pelabuhan Penyeberangan Kariangau, Balikpapan, Kalimantan Timur.

“Jaket pelampung tidak tampak, saat ditanya, diketahui bahwa posisinya berada jauh dari penumpang dan di dalam kotak terkunci,” jelas Cris, Sabtu (23/6/2018).

Sontak saja membuat Cris yang didampingi Kepala BPTD Wilayah XVII Kaltim dan Kaltara, Felix Iryantomo, Kepala KSOP Balikpapan Capt. Jhonny R Silalahi dan Kepala Otoritas Bandara Agus Subagyo ‘geleng-geleng kepala’.

“Alasan nakhoda, jaket pelampung sering hilang, sehingga diletakkan dalam kotak terkunci,” ujar Cris.

IMG-20180623-WA0007

Mereka juga meninjau kapal feri yang sedang bersandar di dan tengah melakukan lasing dan menaikkan penumpang.

Hal ini juga mendapat respon cukup tegas dari Staf Ahli yang membidangi keselamatan perhubungan ini

“Jangan hanya karena masalah jaket hilang, orang jadi tidak bisa menyelamatkan diri dalam keadaan darurat karena tidak bisa ambil jaket di kotak yang terkunci,” tegasnya.

Cris menambahkan agar alat dan akses keselamatan harus bisa segera dan mudah dijangkau oleh semua orang, sehingga penumpang bisa menyelamatkan diri mereka sendiri meski tanpa bantuan orang lain.

Dalam kesempatan itu, Kepala Seksi Transportasi Sungai, Danau dan Penyeberangan Komersial dan Perintis Wulang Sudrajat menjelaskan bahwa sistem perhitungan penumpang pelabuhan kariangau.

“Jumlah perhitungan penumpang hanya yang beli tiket untuk penumpang saja, sedangkan yang di atas kendaraan tidak terhitung, hanya kendaraan yang terhitung. Tapi kami akan memperbaiki sistem ini,” ungkapnya.

IMG-20180623-WA0009

Cris memberi masukan agar penghitungan jumlah penumpang segera diperbaiki. Baik penumpang biasa maupun yang di atas kendaraan harus dihitung, agar fasilitas keselamatan yang disediakan sesuai, seperti jaket keselamatan.

“Ini memang tidak berdampak pada tarif tapi hal ini menjadi peningkatan keselamatan dalam pelayaran. Jangan hanya karena sudah biasa baik-baik saja tanpa keselamatan yang memadai, jadi dibiarkan. Itu bisa menjadi bentuk pengabaian keselamatan,” imbuh dia. (omy)