Angkasa Pura 2

Jangan Tempatkan Atlet Asian Games di Satu Tempat

KoridorSelasa, 3 Juli 2018
Darmaningtyas Instrans

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Pada saat pertama kali mengikuti rapat  “Finalisasi Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas saat ASIAN GAMES 2018”  di BPTJ (Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek), 23 Mei 2018 lalu,  penulis membayangkan betapa problematiknya perjalanan para atlet nanti.

Yang perlu disadari adalah ruang lalu lintas saat Asian Games nanti bukan ruang kosong, yang hanya untuk para atlet saja. Ruang lalu lintas nanti adalah lalu lintas Jakarta normal seperti saat ini, karena pelajar tidak libur dan kantoran pun buka normal, ditambah 4.000 kendaraan baru yang terjual antara Juni-Agustus.

Dengan lalu lintas normal, dan dipaksakan atlet mendapatkan prioritas jalur ? Maka yang akan terjadi adalah gugatan publik bila perjalanan mereka terganggu selama dua minggu. Namun kalau akan berlaku adil, maka dapat dipastikan perjalanan atlet terhambat sehingga memunculkan gugatan dari para peserta Asian Games.

Ini dilematis.

Solusi masalah transportasi Asian Games terbaik untuk menghindari gugatan publik dan peserta Asian Games adalah menempatkan penginapan atlet dan official tidak dalam satu tempat. Tapi terpecah-pecah dan mendekati venue sehingga mengurangi waktu perjalanan mereka.

Alasan bahwa sudah kadung dibangun Perkampungan Atlet di Kemayoran, sebaiknya dibuang saja demi nama baik bangsa dan negara. Orang Jawa bilang, daripada kehilangan jeneng (nama baik) lebih baik kehilangan jenang (uang).

Pemerintah dengan kuasanya dapat mencari solusi untuk membayar penginepan di hotel-hotel yang mendekati venue. Hanya sebagian atlet saja yang ditempatkan di Wisma Atlet, sebagian besar ditempatkan di tempat-tempat yang mendekati venue.

Jangan pernah bilang bahwa “kalau gitu sia-sia dong membangun Wisma Atlet”, karena tentu akan bermanfaat untuk yang lain. Yang pasti, menempatkan semua atlet di satu tempat yang sama memiliki resiko amat besar sebagai tuan rumah ASIAN GAMES 2018, sehingga perlu dihindari. Libatkan swasta untuk mencari jalan keluar terbaik selagi masih ada waktu.*

Darmaningtyas, Ketua INSTRAN dan Ketua Bidang Advokasi MTI (Masyarakat Transportasi Indonesi