Angkasa Pura 2

Audit Keselamatan Merupakan “Nyawanya” Perusahaan Pelayaran

DermagaSelasa, 10 Juli 2018
Asep Supaman Atosim

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Safety audit atau audit  keselamatan kapal merupakan perintah atau mandatory International Maritime Organization (IMO) selain aturan nasional baik UU Pelayaran dan aturan turunannya.

“Seluruh kapal yang beroperasi di Indonesia dan mendapatkan izin trayek dipastikan sudah laik laut dan memenuhi syarat administrasi untuk dioperasikan dan mengangkut penumpang umum,” kata Direktur Atosim, perusahaan pelayaran penyeberangan nasional, Asep Suparman menjawab BeritaTrans.com di Jakarta, Selasa (10/7/2018).

Menurutnya, audit keselamatan yang dilakukan oleh auditor khususnya dari Ditjen Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) itu wajib dan rutin dilakukan setiap tahun. “Audit keselamatan itu rutin dan diatur secara international oleh IMO,” sebut dia.

“Untuk kapal penumpang dan ro-ro, dilakukan setahun sekali. Jadi, bersamaan dengan docking tahunan, dilakukan audit dan sertifikasi untuk mendapatkan  Safety Management Certificate (SMC). SMC itulah yang digunakan oleh perusahaan pelayaran untuk mengurus perizinan usaha, izin trayek dan lainnya,” kata Asep.

Bagi perusahaan pelayaran khususnya yang melayani angkutan penumpang, safety menjadi sangat penting.  Sesuai aturan international dan nasional, semua kapal yang dioperasikan harus laik laut. “Jika tak mempunyai SMC, maka pengurusan perizinan yang lain tak bisa atau pasti akan ditolak oleh Pemerintah sebagai regulator,” papar mantan pejabat Pelni itu.

Perusahaan pelayaran termasuk PT Atosim,  audit keselamatan itu wajib bahkan merupakan “nyawa usahanya”. Jika tak memenuhi aspek keselamatan yang dibuktikan dengan lolos SMC maka kapal tak bisa dioperasikan.

“Audit keselamatan  mutlak dan berlaku di seluruh dunia. Perusahaan pelayaran harus memiliki SMC untuk mengurus perizinan. Jangankan beroperasi, mau mengurus izin sudah dipersyaratkan memenuhi aspek keselamatan dalam bentuk SMC itu,” papar Asep.

Kalau di lapangan kemudian masih terjadi kecelakaan, menurut Asep, itu masalah lain. “Kecelakaan kapal di laut itu banyak penyebabnya. Tak ada perusahaan pelayaran atau nakhida sekalipun yang ingin celaka,” sebut dia.

“Taka ada penyebab tunggal dalam satu kecelakaan,  ada faktor lain yang berkontribusi dan ikut mempengaruhinya. Dan pihak perusahaan pasti akan menghindari, kalau bisa jangan sampai kapalnya celaka dan menimbulkan korban jiwa dan harta,” tandas Asep.(helmi)

loading...
Terbaru
Terpopuler
Terkomentari