Angkasa Pura 2

Terima Pinjaman Bank Dunia US$300 Juta Indonesia Harus Perbaiki Sistem Logistik

Siswanto Rusdi

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Indonesia baru sja mendapatkan pinjaman dari Bank Dunia sebesar US$300 juta untuk memperbaiki sistem  dan tata kelola logistik di Tanah Air. Sistem transportasi di Indonesia harus memberikan kontribusi positif pada sistem logistik nasional.

“Dana Bank Dunia tersebut harus digunakan dengan baik, apalagi itu pinjaman dan harus dikembangkan ke Bank Dunia,” kata Direktur Namarind Siswanto Rusdi kepada BeritaTrans.com di Jakarta, Kamis (12/7/2018).

Dikatakan, sistem logistik di Indonesia baik dengan moda darat. laut, udara dan jereta api (KA) harus makin baik, efisien dan menguntungkan bangsa dan negara.

“Perkembangan iptek terkait termasuk di bidang  informatika harus bisa meningkatkan layanan logistik yang cepat, murah, aman dan nyaman,” jelas Siswanto lagi.

Sebelumnya, Bank Dunia merelease data bahwa biaya logistik di Indonesia mencapai 24% dari PDB (Produk Domestik Bruto). “Dengan pinjaman dari bank Dunia itu,  akhir tahun 2018 biaya itu harus sudah turun menjadi 19% dari PDB,” papar Siswanto.

Apa Parameternya ?

Yang menjadi masalah sekarang, papar dia, apa parameter dan ukuran Bank Dunia  sampai menentukan biaya logistik Indonesia sebesar 24% dari PDB itu.

“Bagaimana formulanya dan parameter apa saja yang menjadi dasar penghitungan Bank Dunia itu tidak pernah jelas sampai sekarang,” kata akademisi YIA Jakarta itu.

Lembaga seperti BPS sekalipun, menurut dia,  belum tahu bahkan masih mencari masukan untuk menentukan formua untuk mengikuran besaran biaya logistik di Indonesia.

Oleh karena itu, dia menyarankan, perlu duduk bersama para pihak terkait dan merumuskan formula penghitungan biaya logistik di Indonesia. Selanjutnya, dilakukan efisiensi dan perbaikan secara maksimal.

“Sistem logistik di Indonesia harus makin baik dan efisien sehingga tidak memberatkan dunia usaha. Pada akhirya mampu meningkatkan daya saing Indonesia dan tidak memberatkan rakyat sebagai konsumen,” tandas Siswanto.(helmi)