Angkasa Pura 2

Dukung LCCT, Angkasa Pura II Siapkan Rp3,7 Triliun Revitalisasi Terminal 1 & 2 Bandara Soetta

Another NewsJumat, 13 Juli 2018
images (1)

KUNINGAN (BeritaTrans.com) – Manajemen PT Angkasa Pura II menyiapkan anggaran (capex) Rp3,7 triliun untuk merevitalisasi Terminal 2 dan 2 Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) menjadi Low Cost Carrier Terminal (LCCT).

Kepada BeritaTrans.com dan Aksi.id, Jumat (13/7/2018), Direktur Utama PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin mengemukakan anggaran revitalisasi, yang antara lain berorientasi menjadi LCCT itu, dengan alokasi Rp1,9 miliar untuk Terminal 1.

“Sisanya Rp1,8 miliar untuk Terminal 2. Jadi total Rp3,7 triliun. Multiyears ya. Dikerjakan mulai tahun ini,” ungkapnya sambil menambahkan revitalisasi merupakan bagian dari kesiapan Bandara Soekarno-Hatta melayani 100 Juta penumpang.

Dia menuturkan program revitalisasi tersebut linier dengan program Kementerian Pariwisata (Kemenpar) untuk menggenjot target 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman).

Selain itu, Muhammad Awaluddin menuturkan sejalan dengan instruksi Menteri BUMN Rini Soemarno agar PT Angkasa Pura II berpartisipasi lebih aktif dalam program pemerintah meningkatkan arus wisman. Salah satu jalan mengerek jumlah wisman itu adalah melalui Low Cost Carrier Terminal (LCTT).

Dia menjelaskan bahkan sebenarnya PT Angkasa Pura II sudah memiliki LCCT yakni Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta. “Ke depannya, kami programkan Terminal 1 menjadi full LCCT penerbangan domestik. Sedangkan Terminal 2 full LCCT untuk penerbangan domestik dan internasional,” jelasnya.

Terminal 3 eksisting dan Terminal 4, yang akan dibangun, didesikasikan untuk terminal full service. “Dengan demikian, penerbangan internasional Lion, Scoot dan sebagainya akan beroperasi di Terminal 2. Sedangkan penerbangan full service sepenuhnya di Terminal 3 dan 4,” ujarnya.

Ditanyakan tentang kesiapan Terminal 2 menjadi full LCCT penerbangan domestik dan internasional, dia menjelaskan paralel dengan program revitalisasi.

“Selain itu, operasionalnya paralel dengan tuntasnya proses di instansi terkait termasuk Imigrasi, Bea Cukai, Karantina dan perizinan di Kementerian Perhubungan. Dengan sinergitas yang selama ini solid, proses itu akan cepat finalisasinya,” tegas Awaluddin.

Dalam kaitan memberikan dukungan penuh terhadap pariwisata, Awaluddin menuturkan seluruh bandara kelolaan PT Angkasa Pura II menggelar begitu banyak kegiatan, termasuk pagelaran seni budaya.

“Kami juga menampilkan berbagai display menyajikan kekayaan dan kearifan lokal. Pada banyak event, pegawai bandara mengenakan busana adat setempat,” ujarnya.

Dalam program itu, dia menjelaskan PT Angkasa Pura II bekerjsama dalam konteks sinergi BUMN serta berkoordinasi dengan Kemenpar dan Kemenhub.

Dia menyebutkan promosi wisata juga digenjot dalam mempromosikan evenr Asian Games 2018. “Kami all out dalam mempromosikan pariwisata dan Asian Games,” tegasnya.

TARGET KEMENPAR

Sebelumnya Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menyatakan pentingnya Low Cost Carrier Terminal (LCTT) untuk mengejar target 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman).

Pertumbuhan penumpang Low Cost Carrier naik 55% per-tahun, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Full Service Carriers (FSC) yang hanya sekitar 7%. Hal ini disampaikan Menpar Arief dalam Rapat Koordinasi Percepatan Pembangunan Sektor Pariwisata Untuk Meningkatkan Devisa Negara di Kantor Kemenko Kemaritiman, Kamis (12/07).

“Target yang diberikan presiden kepada kita menuntut pertumbuhan harus 20 persen, kalau kita ikut Full Service Carriers maka pertumbuhan tidak akan pernah tercapai. Maka harus dengan Low Cost Carrier,” kata Menpar Arief.

Indonesia hingga kini belum memiliki LCCT, sehingga low cost carrier yang mendarat di Indonesia seperti Air Asia, Scoot, Jetstar dan lainnya harus menggunakan terminal full service yang harganya lebih tinggi. Dengan adanya terminal LCC, maka airlines bisa memotong biaya operasional hingga 50 persen, namun akan memiliki traffic yang meningkat dua kali lipat.

Menpar Arief memberi contoh beberapa bandara di Jepang yang telah membangun LCCT, seperti Bandara Narita, Bandara Kansai, Bandara Naha, dan Bandara Nagoya. Bandara Narita yang baru saja membangun T3 sebagai LCCT pada April 2015 ini, pax traffic LCC-nya terus tumbuh dari 11.5 persen menjadi 31 persen pada 2017 dari pax traffic keseluruhan di Bandara Narita.

“Hasilnya turis _inbound_ ke Jepang tumbuh 33 persen dari tahun 2011 sampai dengan 2015 dan menjadi the _fastest rate in the world_, mencapai 28,7 juta turis pada 2017,” kata Menpar.

Walaupun LCC identik dengan budget traveler namun Menpar tidak khawatir bila nantinya wisatawan yang berkunjung memiliki spending yang kecil. “Contohnya Thailand, punya banyak terminal LCC, namun Average Revenue per Arrival-nya (ARPA) mencapai 1.500 dolar AS. Sementara Indonesia masih di angka 1.200 dolar AS. Tingkat keterisian penumpang (okupansi) pesawat ke destinasi biasanya juga lebih banyak untuk kelas ekonomi,” kata Menpar Arief yakin bahwa penggunaan LCCT tidak mempengaruhi ARPA.

Menpar Arief memproyeksikan pembangunan LCCT di bandara yang telah memiliki lebih dari satu terminal sehingga salah satu terminalnya bisa diarahkan untuk LCCT. Dengan adanya LCCT di Indonesia, tentunya akan ikut mendorong pencapaian target kunjungan 20 juta wisman dari Presiden Joko Widodo.

(awe).